Small Thumbnail Featured Post 1
Small Thumbnail Featured Post 2
Small Thumbnail Featured Post 3
Small Thumbnail Featured Post 4
Featured Post Title 1
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt...
Featured Post Title 2
Lorem ipsum dolor sit amet, consetetur sadipscing elitr, sed diam nonumy eirmod tempor invidunt...
Featured Post Title 3
Integer tellus metus, placerat ac lacinia sed, commodo ut lorem. Suspendisse eleifend massa eget elit pellentesque...
Featured Post Title 4
Etiam tincidunt lobortis massa et tincidunt. Vivamus commodo feugiat turpis, in pulvinar felis elementum vel...
Saturday, October 6, 2012
Wednesday, August 15, 2012
Cerita, ”Pohon Beringin dan Pohon Durian'
Suatu ketika ada pemuda yang sedang istirahat di bawah pohon beringin. Sambil tiduran, dia merenung, dan berkata,
”Heran, Allah itu tidak adil. Masak pohon beringin yang besar ini kok buahnya kecil-kecil.” katanya dalam hati.
”Sedangankan pohon durian, yang kecil pohonnya, tapi kok besar buahnya...” protes dia dalam hatinya.
Tiba-tiba sebutir buah beringin jatuh menimpa kepala pemuda itu, Tuk...!!
Sang pemudapun kaget, dari lamunannya... tiba-tiba dia beristighfar, meminta ampun kepada Allah atas tuduhannya bahwa Allah tidak adil”
Sahabatku, tahukah anda penyebab sang pemuda itu sadar akan kesalahannya?
Ya,... dia membayangkan jika pohon beringin itu memiliki buah seperti durian, pasti kepalanya remek (hancur) tertimpa buahnya... ^_^
~~~
Sahabatku, saya yakin pernah terbesit dalam diri anda merasakan bahwa Allah tidak adil. Kenapa nasib saya begini? kenapa dia begitu? Kenapa dia mendapatkan itu? sedang saya tidak? Pernahkah?
Jika pernah, maka mohonlah ampun kepada-Nya. Seperti kisah diatas, pemuda tersebut tidak akan sadar akan kesalahannya, sebelum tertimpa buah kecil dari pohon beringin tersebut. Yakinlah Allah Maha adil. Cuma, dari sebagian kejadian, mungkin kita belum tau dan belum paham akan hikmah dan maksud keadilan Allah dengan segala kejadian penciptaan-Nya tersebut.
Ah... sangat wajar saya kira, seberapa besar sih kemampuan otak manusia? Pasti memliki keterbatasan. Karena kita hanya makhluk. Sedangkan Allah adalah zat yang tak terbatas, Maha Segalanya..., karena Dia sang Kholik... Sang Pencipta... Allah yang Maha Adil...!
Jazakumullah telah membaca, semoga bermanfaat...
”Heran, Allah itu tidak adil. Masak pohon beringin yang besar ini kok buahnya kecil-kecil.” katanya dalam hati.
”Sedangankan pohon durian, yang kecil pohonnya, tapi kok besar buahnya...” protes dia dalam hatinya.
Tiba-tiba sebutir buah beringin jatuh menimpa kepala pemuda itu, Tuk...!!
Sang pemudapun kaget, dari lamunannya... tiba-tiba dia beristighfar, meminta ampun kepada Allah atas tuduhannya bahwa Allah tidak adil”
Sahabatku, tahukah anda penyebab sang pemuda itu sadar akan kesalahannya?
Ya,... dia membayangkan jika pohon beringin itu memiliki buah seperti durian, pasti kepalanya remek (hancur) tertimpa buahnya... ^_^
~~~
Sahabatku, saya yakin pernah terbesit dalam diri anda merasakan bahwa Allah tidak adil. Kenapa nasib saya begini? kenapa dia begitu? Kenapa dia mendapatkan itu? sedang saya tidak? Pernahkah?
Jika pernah, maka mohonlah ampun kepada-Nya. Seperti kisah diatas, pemuda tersebut tidak akan sadar akan kesalahannya, sebelum tertimpa buah kecil dari pohon beringin tersebut. Yakinlah Allah Maha adil. Cuma, dari sebagian kejadian, mungkin kita belum tau dan belum paham akan hikmah dan maksud keadilan Allah dengan segala kejadian penciptaan-Nya tersebut.
Ah... sangat wajar saya kira, seberapa besar sih kemampuan otak manusia? Pasti memliki keterbatasan. Karena kita hanya makhluk. Sedangkan Allah adalah zat yang tak terbatas, Maha Segalanya..., karena Dia sang Kholik... Sang Pencipta... Allah yang Maha Adil...!
Jazakumullah telah membaca, semoga bermanfaat...
Tuesday, August 14, 2012
Yang Manakah Anda.... ?
Siapakah orang yang sibuk ?
Orang yang sibuk adalah orang yang tidak
mengambil pusing akan waktu shalatnya seolah-olah ia mempunyai kerajaan
seperti kerajaan Nabi Sulaiman a.s.
Siapakah orang yang manis senyumannya?
Orang yang mempunyai senyuman yang manis adalah orang yang di timpa musibah lalu dia kata "Inna lillahi wainna illaihi rajiuun." Lalu sambil berkata, "Ya Rabbi Aku ridha dengan ketentuanMu ini", sambil mengukir senyuman.
Siapakah orang yang kaya?
Orang yang kaya adalah orang yang bersyukur dengan apa yang ada dan Tidak lupa akan kenikmatan dunia yang sementara ini.
Siapakah orang yang miskin?
Orang yang miskin adalah orang tidak puas dengan nikmat yang ada senantiasa menumpuk-numpukkan harta.
Siapakah orang yang rugi?
Orang yang rugi adalah orang yang sudah sampai usia pertengahan namun masih berat untuk melakukan ibadat dan amal-amal kebaikan.
Siapakah orang yang paling cantik?
Orang yang paling cantik adalah orang yang mempunyai akhlak yang baik.
Siapakah orang yang mempunyai rumah yang paling luas?
Orang yang mempunyai rumah yang paling luas adalah orang yang mati membawa amal amal kebaikan di mana kuburnya akan di perluaskan kemana mata memandang.
Siapakah orang yang mempunyai rumah yang sempit lagi menghimpit?
Orang yang mempunyai rumah yang sempit adalah orang yang mati tidak membawa amal-amal kebaikan lalu kuburnya menghimpitnya.
Siapakah orang yang mempunyai akal?
Orang yang mempunyai akal adalah orang-orang yang menghuni surga kelak karena telah mengunakan akal sewaktu di dunia untuk menghindari siksa neraka.
Siapakah orang yg bijak?
Orang yg bijak ialah org yg tidak membiarkan atau membuang tulisan ini begitu saja, malah dia akan menyampaikan pula pada org lain untuk dimanfaatkan dan mengambil contoh sebagai sandaran dan pedoman kehidupan sehari-hari.
Siapakah orang yang manis senyumannya?
Orang yang mempunyai senyuman yang manis adalah orang yang di timpa musibah lalu dia kata "Inna lillahi wainna illaihi rajiuun." Lalu sambil berkata, "Ya Rabbi Aku ridha dengan ketentuanMu ini", sambil mengukir senyuman.
Siapakah orang yang kaya?
Orang yang kaya adalah orang yang bersyukur dengan apa yang ada dan Tidak lupa akan kenikmatan dunia yang sementara ini.
Siapakah orang yang miskin?
Orang yang miskin adalah orang tidak puas dengan nikmat yang ada senantiasa menumpuk-numpukkan harta.
Siapakah orang yang rugi?
Orang yang rugi adalah orang yang sudah sampai usia pertengahan namun masih berat untuk melakukan ibadat dan amal-amal kebaikan.
Siapakah orang yang paling cantik?
Orang yang paling cantik adalah orang yang mempunyai akhlak yang baik.
Siapakah orang yang mempunyai rumah yang paling luas?
Orang yang mempunyai rumah yang paling luas adalah orang yang mati membawa amal amal kebaikan di mana kuburnya akan di perluaskan kemana mata memandang.
Siapakah orang yang mempunyai rumah yang sempit lagi menghimpit?
Orang yang mempunyai rumah yang sempit adalah orang yang mati tidak membawa amal-amal kebaikan lalu kuburnya menghimpitnya.
Siapakah orang yang mempunyai akal?
Orang yang mempunyai akal adalah orang-orang yang menghuni surga kelak karena telah mengunakan akal sewaktu di dunia untuk menghindari siksa neraka.
Siapakah orang yg bijak?
Orang yg bijak ialah org yg tidak membiarkan atau membuang tulisan ini begitu saja, malah dia akan menyampaikan pula pada org lain untuk dimanfaatkan dan mengambil contoh sebagai sandaran dan pedoman kehidupan sehari-hari.
Monday, August 13, 2012
KEBOSANAN
Ini sebuah cerita ringan tentang kebosanan. Seorang tua yang bijak ditanya oleh tamunya.
Tamu : "Sebenarnya apa itu perasaan 'bosan', pak tua?
Pak Tua : "Bosan adalah keadaan dimana pikiran menginginkan perubahan, mendambakan sesuatu yang baru, dan menginginkan berhentinya rutinitas hidup dan keadaan yang monoton dari waktu ke waktu".
Tamu : "Kenapa kita merasa bosan?".
Pak Tua : "Karena kita tidak penah merasa puas dengan apa yang kita miliki."
Tamu : "Bagaimana menghilangkan kebosanan?"
Pak Tua : " Hanya ada satu cara, nikmatilah kebosanan itu, maka kita pun akan terbebas darinya."
Tamu : "Bagaiman mungkin bisa menikmati kebosanan?"
Pak Tua : "Bertanyalah pada dirimu sendiri, mengapa kamu tidak pernah bosan makan nasi yang sama rasanya setiap hari?"
Tamu : "Karena kita makan nasi dengan lauk dan sayur yang berbeda, Pak Tua."
Pak Tua : "Benar sekali anakku, tambahkan sesuatu yang baru dalam rutinitasmu maka kebosanan pun akan hilang."
Tamu : "Bagaimana menambahkan hal baru dalam rutinitas?"
Pak Tua : "Ubahlah caramu melakukan rutinitas itu. Kalau biasanya menulis sambil duduk, cobalah menulis sambil jongkok atau berbaring. kalau biasanya membaca di kursi, cobalah membaca sambil berjalan-jalan atau meloncat-loncat. Kalau biasanya menelpon dengan tangan kanan, cobalah dengan tangan kiri atau dengan kaki kalau bisa. Dan seterusnya."
Lalu Tamu itu pun pergi.
Beberapa hari kemudian Tamu itu mengunjungi Pak Tua lagi.
Tamu : "Pak Tua, saya sudah melakukan apa yang Anda sarankan, kenapa saya masih merasa bosan juga?"
Pak Tua : "Coba lakukan sesuatu yang bersifat kekanak-kanakan."
Tamu : "Contohnya?"
Pak Tua : "Mainkan permainan yang paling kamu senangi di waktu kecil dulu."
Lalu Tamu itu pun pergi.
Beberapa minggu kemudian, Tamu itu datang lagi ke rumah Pak Tua.
Tamu : "Pak Tua, saya melakukan apa yang Anda sarankan. Di setiap waktu senggang saya bermain sepuas-puasnya semua permainan anak-anak yang saya senangi dulu. Dan keajaiban pun terjadi. Sampai sekarang saya tidak pernah merasa bosan lagi, meskipun disaat saya melakukan hal-hal yang dulu pernah saya anggap membosankan. Kenapa bisa demikian, Pak Tua?"
Sambil tersenyum Pak Tua berkata : "Karena segala sesuatu sebenarnya berasal dari pikiranmu sendiri, anakku. Kebosanan itu pun berasal dari pikiranmu yang berpikir tentang kebosanan. Saya menyuruhmu bermain seperti anak kecil
agar pikiranmu menjadi ceria. Sekarang kamu tidak merasa bosan lagi karena pikiranmu tentang keceriaan berhasil mengalahkan pikiranmu tentang kebosanan. Segala sesuatu berasal dari pikiran. berpikir bosan menyebabkan kau bosan. Berpikir ceria menjadikan kamu ceria."
Tamu : "Sebenarnya apa itu perasaan 'bosan', pak tua?
Pak Tua : "Bosan adalah keadaan dimana pikiran menginginkan perubahan, mendambakan sesuatu yang baru, dan menginginkan berhentinya rutinitas hidup dan keadaan yang monoton dari waktu ke waktu".
Tamu : "Kenapa kita merasa bosan?".
Pak Tua : "Karena kita tidak penah merasa puas dengan apa yang kita miliki."
Tamu : "Bagaimana menghilangkan kebosanan?"
Pak Tua : " Hanya ada satu cara, nikmatilah kebosanan itu, maka kita pun akan terbebas darinya."
Tamu : "Bagaiman mungkin bisa menikmati kebosanan?"
Pak Tua : "Bertanyalah pada dirimu sendiri, mengapa kamu tidak pernah bosan makan nasi yang sama rasanya setiap hari?"
Tamu : "Karena kita makan nasi dengan lauk dan sayur yang berbeda, Pak Tua."
Pak Tua : "Benar sekali anakku, tambahkan sesuatu yang baru dalam rutinitasmu maka kebosanan pun akan hilang."
Tamu : "Bagaimana menambahkan hal baru dalam rutinitas?"
Pak Tua : "Ubahlah caramu melakukan rutinitas itu. Kalau biasanya menulis sambil duduk, cobalah menulis sambil jongkok atau berbaring. kalau biasanya membaca di kursi, cobalah membaca sambil berjalan-jalan atau meloncat-loncat. Kalau biasanya menelpon dengan tangan kanan, cobalah dengan tangan kiri atau dengan kaki kalau bisa. Dan seterusnya."
Lalu Tamu itu pun pergi.
Beberapa hari kemudian Tamu itu mengunjungi Pak Tua lagi.
Tamu : "Pak Tua, saya sudah melakukan apa yang Anda sarankan, kenapa saya masih merasa bosan juga?"
Pak Tua : "Coba lakukan sesuatu yang bersifat kekanak-kanakan."
Tamu : "Contohnya?"
Pak Tua : "Mainkan permainan yang paling kamu senangi di waktu kecil dulu."
Lalu Tamu itu pun pergi.
Beberapa minggu kemudian, Tamu itu datang lagi ke rumah Pak Tua.
Tamu : "Pak Tua, saya melakukan apa yang Anda sarankan. Di setiap waktu senggang saya bermain sepuas-puasnya semua permainan anak-anak yang saya senangi dulu. Dan keajaiban pun terjadi. Sampai sekarang saya tidak pernah merasa bosan lagi, meskipun disaat saya melakukan hal-hal yang dulu pernah saya anggap membosankan. Kenapa bisa demikian, Pak Tua?"
Sambil tersenyum Pak Tua berkata : "Karena segala sesuatu sebenarnya berasal dari pikiranmu sendiri, anakku. Kebosanan itu pun berasal dari pikiranmu yang berpikir tentang kebosanan. Saya menyuruhmu bermain seperti anak kecil
agar pikiranmu menjadi ceria. Sekarang kamu tidak merasa bosan lagi karena pikiranmu tentang keceriaan berhasil mengalahkan pikiranmu tentang kebosanan. Segala sesuatu berasal dari pikiran. berpikir bosan menyebabkan kau bosan. Berpikir ceria menjadikan kamu ceria."
Sunday, August 12, 2012
Mengapa ayam menyebrang jalan?
Jika ada Pertanyaan:
Mengapa Ayam Menyebrang Jalan?
Mengapa Ayam Menyebrang Jalan?
Jawaban menurut:
Guru TK:
Supaya sampai ke ujung jalan.
Supaya sampai ke ujung jalan.
FBI:
Beri saya lima menit dengan ayam itu, saya akan tahu kenapa.
Beri saya lima menit dengan ayam itu, saya akan tahu kenapa.
Aristoteles:
Karena merupakan sifat alami dari ayam.
Karena merupakan sifat alami dari ayam.
Martin Luther King, Jr.:
Saya memimpikan suatu dunia yang membebaskan semua ayam menyeberang jalan tanpa mempertanyakan kenapa.
Saya memimpikan suatu dunia yang membebaskan semua ayam menyeberang jalan tanpa mempertanyakan kenapa.
Freud:
Fakta bahwa kalian semua begitu peduli pada alasan ayam itu menunjukkan ketidaknyamanan seksual kalian yang tersembunyi.
Fakta bahwa kalian semua begitu peduli pada alasan ayam itu menunjukkan ketidaknyamanan seksual kalian yang tersembunyi.
George W Bush:
Kami tidak peduli kenapa ayam itu menyeberang! Kami cuma ingin tau apakah ayam itu ada di pihak kami atau tidak, apa dia bersama kami atau melawan kami. Tidak ada pihak tengah di sini!
Kami tidak peduli kenapa ayam itu menyeberang! Kami cuma ingin tau apakah ayam itu ada di pihak kami atau tidak, apa dia bersama kami atau melawan kami. Tidak ada pihak tengah di sini!
Darwin:
Ayam telah melalui periode waktu yang luar biasa, telah melalui seleksi alam dengan cara tertentu dan secara alami tereliminasi dengan menyeberang jalan.
Ayam telah melalui periode waktu yang luar biasa, telah melalui seleksi alam dengan cara tertentu dan secara alami tereliminasi dengan menyeberang jalan.
Einstein:
Apakah ayam itu menyeberang jalan atau jalan yang bergerak di bawah ayam itu, itu semua tergantung pada sudut pandang kita sendiri.
Apakah ayam itu menyeberang jalan atau jalan yang bergerak di bawah ayam itu, itu semua tergantung pada sudut pandang kita sendiri.
Nelson Mandela:
Tidak akan pernah lagi ayam ditanyai kenapa menyeberang jalan! Dia adalah panutan yang akan saya bela sampai mati!
Tidak akan pernah lagi ayam ditanyai kenapa menyeberang jalan! Dia adalah panutan yang akan saya bela sampai mati!
Thabo Mbeki:
Kita harus mencari tahu apakah memang benar ada kolerasi antara ayam dan jalan.
Kita harus mencari tahu apakah memang benar ada kolerasi antara ayam dan jalan.
Isaac Newton:
Semua ayam di bumi ini kan menyeberang jalan secara tegak lurus dalam garis lurus yang tidak terbatas dalam kecepatan yang seragam, terkecuali jika ayam berhenti karena ada reaksi yang tidak seimbang dari arah berlawanan.
Semua ayam di bumi ini kan menyeberang jalan secara tegak lurus dalam garis lurus yang tidak terbatas dalam kecepatan yang seragam, terkecuali jika ayam berhenti karena ada reaksi yang tidak seimbang dari arah berlawanan.
Miyabi:
Ooohh… Aahhh… Yeeahh… Mmmhhh…
Ooohh… Aahhh… Yeeahh… Mmmhhh…
Programmer Oracle:
Tidak semua ayam dapat menyeberang jalan, maka dari itu perlu adanya interface untuk ayam yaitu nyeberangable, ayam-ayam yang ingin atau bisa menyeberang diharuskan untuk mengimplementasikan interface nyebrangable, jadi di sini sudah jelas terlihat bahwa antara ayam dengan jalan sudah loosely coupled.
Tidak semua ayam dapat menyeberang jalan, maka dari itu perlu adanya interface untuk ayam yaitu nyeberangable, ayam-ayam yang ingin atau bisa menyeberang diharuskan untuk mengimplementasikan interface nyebrangable, jadi di sini sudah jelas terlihat bahwa antara ayam dengan jalan sudah loosely coupled.
Sutiyoso:
Itu ayam pasti ingin naik busway.
Itu ayam pasti ingin naik busway.
Soeharto:
Ayam-ayam mana yang ndak nyebrang, tak gebuk semua! Kalo perlu ya dikebumikan saja.
Ayam-ayam mana yang ndak nyebrang, tak gebuk semua! Kalo perlu ya dikebumikan saja.
Habibie:
Ayam menyeberang dikarenakan ada daya tarik gravitasi, dimana terjadi percepatan yang mengakibatkan sang ayam mengikuti rotasi dan berpindah ke seberang jalan.
Ayam menyeberang dikarenakan ada daya tarik gravitasi, dimana terjadi percepatan yang mengakibatkan sang ayam mengikuti rotasi dan berpindah ke seberang jalan.
Nia Dinata:
Pasti mau casting ‘30 Hari Mencari Ayam’ ya?
Pasti mau casting ‘30 Hari Mencari Ayam’ ya?
Desi Ratnasari:
No comment!
No comment!
Dhani Ahmad:
Asal ayam itu mau poligami, saya rasa gak ada masalah mau nyebrang kemana juga…
Asal ayam itu mau poligami, saya rasa gak ada masalah mau nyebrang kemana juga…
Chinta Laura:
Ayam nyebrang jhalaan..? karena gak ada owject…biecheeck. …
Ayam nyebrang jhalaan..? karena gak ada owject…biecheeck. …
Julia Perez:
Memangnya kenapa kalo ayam itu menyeberang jalan? Karena sang jantan ada di sana ! Daripada sang betina sendirian di seberang sini, yaaahhhh dia kesana laahh… Cape khan pake alat bantu terus?
Memangnya kenapa kalo ayam itu menyeberang jalan? Karena sang jantan ada di sana ! Daripada sang betina sendirian di seberang sini, yaaahhhh dia kesana laahh… Cape khan pake alat bantu terus?
Roy Marten:
Ayam itu khan hanya binatang biasa, pasti bisa khilaf.. (sambil
sesenggukan) .
Ayam itu khan hanya binatang biasa, pasti bisa khilaf.. (sambil
sesenggukan) .
Butet Kartaredjasa:
Lha ya jelas untuk menghindari grebekan kamtib to?
Lha ya jelas untuk menghindari grebekan kamtib to?
Megawati:
Ayamnya pasti ayam wong cilik. Dia jalan kaki toh?
Ayamnya pasti ayam wong cilik. Dia jalan kaki toh?
Harmoko:
Berdasarkan petunjuk presiden.
Berdasarkan petunjuk presiden.
and the best answer is:
Gus Dur :
‘Kenapa ayam nyebrang jalan? Ngapain dipikirin? Gitu aja kok repot!
‘Kenapa ayam nyebrang jalan? Ngapain dipikirin? Gitu aja kok repot!
Saturday, August 11, 2012
Air Mata
Detik waktu bersama kelahiran seorang bayi dihiasi tangisan. Nyaring
berkumandang menyaring segala suara yang menyapa telinga ibu. Lonjak hatinya
memuncak gembira penawar sakit dan lesu. Lalu bermulalah sebuah kehidupan
yang mewarnai bumi berpenakan hati, berdakwatkan air mata.
Air mata adakalanya penyubur hati, penawar duka. Adakalanya buih kekecewaan
yang menyempit perasaan, menyesak kehidupan. Air mata seorang manusia
hanyalah umpama air kotor diperlimpahan. Namun setitis air mata kerana
takutkan ALLAH persis permata indahnya gemerlapan. Penghuni Syurga ialah
mereka yang banyak dukacitanya di dunia.
Tidak berkumpul dua perkara dalam satu masa. Barangsiapa gembira di dunia
akan berdukacita di akhirat. Barangsiapa yang banyak dukacitanya di dunia
akan gembira di akhirat. Pencinta dunia menangis kerana dunia yang hilang.
Perindu akhirat menangis kerana dunia yang datang.
Alangkah sempitnya kuburku, keluh seorang Abid.
Alangkah sedikitnya hartaku, kesal si hartawan.
Dari mata yang mengintai setiap kemewahan yang mulus penuh rakus,
mengalirlah air kecewa kegagalan. Dari mata yang redup merenung Hari Akhirat
yang dirasakan dekat, mengalirkan air mata insaf mengharap kemenangan.
"Penghuni Syurga itulah orang-orang yang menang."
(al- Hasr: 20)
Tangis adalah basahan hidup, justeru:
Hidup dimulakan dengan tangis, dicelahi oleh tangis dan diakhiri dengan
tangis. Manusia sentiasa dalam dua tangisan. Sama ada yang membawa untung
atau merugikan.
Sabda Rasulullah s.a.w.
"Ada dua titisan yang ALLAH cintai, pertama titisan darah para Syuhada dan
titisan air mata yang jatuh kerana takutkan ALLAH."
Nabi Muhammad bersabda lagi :
"Tangisan seorang pendosa lebih ALLAH cintai daripada tasbih para wali."
Oleh itu berhati-hatilah dalam tangisan,kerana ada tangisan yang akan
mengakibatkan diri menangis lebih lama dan ada tangisan yang membawa bahagia
untuk selama-lamanya. Seorang pendosa yang menangis kerana dosa adalah lebih
baik daripada Abid yang berangan-angan tentang Syurga mana kelak ia akan
bertakhta.
Nabi SAW bersabda :
"Kejahatan yang diiringi oleh rasa sedih, lebih ALLAH sukai dari satu
kebaikan yang menimbulkan rasa takabur."
Ketawa yang berlebihan tanda lalai dan kejahilan. Ketawa seorang ulama
dunia hilang ilmu, hilang wibawanya. Ketawa seorang jahil, semakin keras
hati dan perasaannya.
Nabi Muhammad bersabda :
"Jika kamu tahu apa yang aku tahu niscaya kamu banyak menangis dan sedikit
ketawa."
Seorang Hukama pernah bersyair :
"Aku hairan dan pelik, melihat orang ketawa kerana perkara-perkara yang akan
menyusahkan, lebih banyak daripada perkara yang menyenangkan."
Salafussoleh menangis walaupun banyak beramal, takut-takut tidak diterima
ibadatnya, kita ketawa walaupun sedar diri kosong daripada amalan. Lupakah
kita Nabi pernah bersabda : "Siapa yang berbuat dosa dalam ketawa, akan
dicampakkan ke neraka dalam keadaan menangis."
Kita gembira jika apa yang kita idamkan tercapai. Kita menangis kalau yang
kita cita-citakan terabai. Nikmat disambut ria, kedukaan menjemput duka.
Namun,Allah s.a.w. telah berfirman :
" Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh
jadi pula kamu menyukai sesuatu, pada hal ianya amat buruk bagimu. ALLAH
mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui." (AL BAQARAH : 216)
Bukankah Nabi pernah bersabda:
"Neraka dipagari nikmat, syurga dipagari bala."
Menangislah wahai diri, agar senyumanmu banyak di kemudian hari. Kerana
engkau belum tahu, nasibmu di puak kanan atau di puak kiri. Di sana,
lembaran sejarahmu dibuka satu persatu, menyemarakkan rasa malu berabad-abad
lamanya bergantung kepada syafaat Rasulullah SAW yang dikasihi Tuhan.
Kenangilah, sungai-sungai yang mengalir itu banjiran air mata Nabi Adam yang
menangis bertaubat, maka suburlah dan sejahteralah bumi kerana terangkatnya
taubat.
Menangislah seperti Saidina Umar yang selalu memukul dirinya dengan berkata
"Kalau semua masuk ke dalam syurga kecuali seorang, aku takut akulah orang
itu."
Menangislah sebagaimana Ummu Sulaim apabila ditanya "Kenapa engkau
menangis?" "Aku tidak mempunyai anak lagi untuk dihantar berperang,"
jawabnya.
Menangislah sebagaimana Ghazwan yang tidak sengaja terpandang wanita
rupawan. Diharamkan matanya dari memandang ke langit seumur hidup, lalu
berkata : "Sesungguhnya engkau mencari kesusahan dengan pandangan itu."
Ibnu Masud r.a.berkata : "Seorang yang mengerti al Quran dikenali waktu
malam ketika orang lain tidur, dan waktu siangnya ketika orang lain tidak
berpuasa, sedihnya ketika orang lain sedang gembira dan tangisnya di waktu
orang lain tertawa. Diamnya di waktu orang lain berbicara, khusuknya di
waktu orang lain berbangga, seharusnya orang yang mengerti al Quran itu
tenang, lunak dan tidak boleh menjadi seorang yang keras, kejam, lalai,
bersuara keras dan marah.
Tanyailah orang-orang soleh mengapa dia tidak berhibur :
"Bagaimana hendak bergembira sedangkan mati itu di belakang kami, kubur di
hadapan kami, kiamat itu janjian kami, neraka itu memburu kami dan
perhentian kami ialah ALLAH."
Menangislah di sini, sebelum menangis di sana!!!.............
berkumandang menyaring segala suara yang menyapa telinga ibu. Lonjak hatinya
memuncak gembira penawar sakit dan lesu. Lalu bermulalah sebuah kehidupan
yang mewarnai bumi berpenakan hati, berdakwatkan air mata.
Air mata adakalanya penyubur hati, penawar duka. Adakalanya buih kekecewaan
yang menyempit perasaan, menyesak kehidupan. Air mata seorang manusia
hanyalah umpama air kotor diperlimpahan. Namun setitis air mata kerana
takutkan ALLAH persis permata indahnya gemerlapan. Penghuni Syurga ialah
mereka yang banyak dukacitanya di dunia.
Tidak berkumpul dua perkara dalam satu masa. Barangsiapa gembira di dunia
akan berdukacita di akhirat. Barangsiapa yang banyak dukacitanya di dunia
akan gembira di akhirat. Pencinta dunia menangis kerana dunia yang hilang.
Perindu akhirat menangis kerana dunia yang datang.
Alangkah sempitnya kuburku, keluh seorang Abid.
Alangkah sedikitnya hartaku, kesal si hartawan.
Dari mata yang mengintai setiap kemewahan yang mulus penuh rakus,
mengalirlah air kecewa kegagalan. Dari mata yang redup merenung Hari Akhirat
yang dirasakan dekat, mengalirkan air mata insaf mengharap kemenangan.
"Penghuni Syurga itulah orang-orang yang menang."
(al- Hasr: 20)
Tangis adalah basahan hidup, justeru:
Hidup dimulakan dengan tangis, dicelahi oleh tangis dan diakhiri dengan
tangis. Manusia sentiasa dalam dua tangisan. Sama ada yang membawa untung
atau merugikan.
Sabda Rasulullah s.a.w.
"Ada dua titisan yang ALLAH cintai, pertama titisan darah para Syuhada dan
titisan air mata yang jatuh kerana takutkan ALLAH."
Nabi Muhammad bersabda lagi :
"Tangisan seorang pendosa lebih ALLAH cintai daripada tasbih para wali."
Oleh itu berhati-hatilah dalam tangisan,kerana ada tangisan yang akan
mengakibatkan diri menangis lebih lama dan ada tangisan yang membawa bahagia
untuk selama-lamanya. Seorang pendosa yang menangis kerana dosa adalah lebih
baik daripada Abid yang berangan-angan tentang Syurga mana kelak ia akan
bertakhta.
Nabi SAW bersabda :
"Kejahatan yang diiringi oleh rasa sedih, lebih ALLAH sukai dari satu
kebaikan yang menimbulkan rasa takabur."
Ketawa yang berlebihan tanda lalai dan kejahilan. Ketawa seorang ulama
dunia hilang ilmu, hilang wibawanya. Ketawa seorang jahil, semakin keras
hati dan perasaannya.
Nabi Muhammad bersabda :
"Jika kamu tahu apa yang aku tahu niscaya kamu banyak menangis dan sedikit
ketawa."
Seorang Hukama pernah bersyair :
"Aku hairan dan pelik, melihat orang ketawa kerana perkara-perkara yang akan
menyusahkan, lebih banyak daripada perkara yang menyenangkan."
Salafussoleh menangis walaupun banyak beramal, takut-takut tidak diterima
ibadatnya, kita ketawa walaupun sedar diri kosong daripada amalan. Lupakah
kita Nabi pernah bersabda : "Siapa yang berbuat dosa dalam ketawa, akan
dicampakkan ke neraka dalam keadaan menangis."
Kita gembira jika apa yang kita idamkan tercapai. Kita menangis kalau yang
kita cita-citakan terabai. Nikmat disambut ria, kedukaan menjemput duka.
Namun,Allah s.a.w. telah berfirman :
" Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh
jadi pula kamu menyukai sesuatu, pada hal ianya amat buruk bagimu. ALLAH
mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui." (AL BAQARAH : 216)
Bukankah Nabi pernah bersabda:
"Neraka dipagari nikmat, syurga dipagari bala."
Menangislah wahai diri, agar senyumanmu banyak di kemudian hari. Kerana
engkau belum tahu, nasibmu di puak kanan atau di puak kiri. Di sana,
lembaran sejarahmu dibuka satu persatu, menyemarakkan rasa malu berabad-abad
lamanya bergantung kepada syafaat Rasulullah SAW yang dikasihi Tuhan.
Kenangilah, sungai-sungai yang mengalir itu banjiran air mata Nabi Adam yang
menangis bertaubat, maka suburlah dan sejahteralah bumi kerana terangkatnya
taubat.
Menangislah seperti Saidina Umar yang selalu memukul dirinya dengan berkata
"Kalau semua masuk ke dalam syurga kecuali seorang, aku takut akulah orang
itu."
Menangislah sebagaimana Ummu Sulaim apabila ditanya "Kenapa engkau
menangis?" "Aku tidak mempunyai anak lagi untuk dihantar berperang,"
jawabnya.
Menangislah sebagaimana Ghazwan yang tidak sengaja terpandang wanita
rupawan. Diharamkan matanya dari memandang ke langit seumur hidup, lalu
berkata : "Sesungguhnya engkau mencari kesusahan dengan pandangan itu."
Ibnu Masud r.a.berkata : "Seorang yang mengerti al Quran dikenali waktu
malam ketika orang lain tidur, dan waktu siangnya ketika orang lain tidak
berpuasa, sedihnya ketika orang lain sedang gembira dan tangisnya di waktu
orang lain tertawa. Diamnya di waktu orang lain berbicara, khusuknya di
waktu orang lain berbangga, seharusnya orang yang mengerti al Quran itu
tenang, lunak dan tidak boleh menjadi seorang yang keras, kejam, lalai,
bersuara keras dan marah.
Tanyailah orang-orang soleh mengapa dia tidak berhibur :
"Bagaimana hendak bergembira sedangkan mati itu di belakang kami, kubur di
hadapan kami, kiamat itu janjian kami, neraka itu memburu kami dan
perhentian kami ialah ALLAH."
Menangislah di sini, sebelum menangis di sana!!!.............
Hidup adalah Anugerah Bagi Jiwa yang Ikhlas
Yang tinggal di gunung merindukan? pantai.
Yang tinggal di pantai merindukan? gunung.
Di musim kemarau merindukan? musim hujan.
Di musim hujan merindukan? musim kemarau.
Yang berambut hitam mengagumi yang pirang.
Yang berambut pirang mengagumi yang hitam.
Diam di rumah merindukan? bepergian.
Setelah bepergian merindukan? rumah.
Ketika masih jadi karyawan ingin jadi Entreprene?ur supaya punya time freedom…
Begitu jadi Entreprene?ur ingin jadi karyawan, biar gak pusing…
Waktu tenang mencari keramaian.
Waktu ramai mencari ketenangan?.
Saat masih bujangan, pengen punya suami ganteng/is?tri cantik.
Begitu sudah dapat suami ganteng/is?tri cantik, pengen yang biasa2 saja, bikin cemburu aja/ takut selingkuh.?.
Punya anak satu mendambaka?n banyak anak.
Punya banyak anak mendambaka?n satu anak saja.
Kita tidak pernah bahagia sebab segala sesuatu tampak indah hanya sebelum dimiliki.
Namun setelah dimiliki tak indah lagi.
Kapankah kebahagiaa?n akan didapatkan? kalau kita hanya selalu memikirkan? apa yang belum ada, namun mengabaika?n apa yang sudah dimiliki tanpa rasa syukur ?
“Semoga kita jd pribadi yang selalu bersyukur.?.Yg snantiasa? b’syukur dngn berkah yg sudah kita miliki”.
“Bagaimana? mungkin selembar daun yang kecil dapat menutupi bumi yang luas ini?
Jangankan bumi, menutupi telapak tangan saja sulit.
Namun bila daun kecil ini menempel di mata kita, maka tertutupla?h bumi!”
Begitu juga bila hati ditutupi pikiran buruk sekecil apapun maka kita akan melihat keburukan di mana-mana.
Bumi ini pun akan tampak buruk.
Jangan menutup mata kita, walaupun hanya dengan daun kecil.
Jangan menutupi hati kita, walaupun hanya dengan sebuah pikiran buruk/nega?tif!
Bila hati kita tertutup, tertutuplah semua…
Syukuri apa yg ada, karena hidup adalah anugerah bagi jiwa-jiwa yg ikhlas.
Yang tinggal di pantai merindukan? gunung.
Di musim kemarau merindukan? musim hujan.
Di musim hujan merindukan? musim kemarau.
Yang berambut hitam mengagumi yang pirang.
Yang berambut pirang mengagumi yang hitam.
Diam di rumah merindukan? bepergian.
Setelah bepergian merindukan? rumah.
Ketika masih jadi karyawan ingin jadi Entreprene?ur supaya punya time freedom…
Begitu jadi Entreprene?ur ingin jadi karyawan, biar gak pusing…
Waktu tenang mencari keramaian.
Waktu ramai mencari ketenangan?.
Saat masih bujangan, pengen punya suami ganteng/is?tri cantik.
Begitu sudah dapat suami ganteng/is?tri cantik, pengen yang biasa2 saja, bikin cemburu aja/ takut selingkuh.?.
Punya anak satu mendambaka?n banyak anak.
Punya banyak anak mendambaka?n satu anak saja.
Kita tidak pernah bahagia sebab segala sesuatu tampak indah hanya sebelum dimiliki.
Namun setelah dimiliki tak indah lagi.
Kapankah kebahagiaa?n akan didapatkan? kalau kita hanya selalu memikirkan? apa yang belum ada, namun mengabaika?n apa yang sudah dimiliki tanpa rasa syukur ?
“Semoga kita jd pribadi yang selalu bersyukur.?.Yg snantiasa? b’syukur dngn berkah yg sudah kita miliki”.
“Bagaimana? mungkin selembar daun yang kecil dapat menutupi bumi yang luas ini?
Jangankan bumi, menutupi telapak tangan saja sulit.
Namun bila daun kecil ini menempel di mata kita, maka tertutupla?h bumi!”
Begitu juga bila hati ditutupi pikiran buruk sekecil apapun maka kita akan melihat keburukan di mana-mana.
Bumi ini pun akan tampak buruk.
Jangan menutup mata kita, walaupun hanya dengan daun kecil.
Jangan menutupi hati kita, walaupun hanya dengan sebuah pikiran buruk/nega?tif!
Bila hati kita tertutup, tertutuplah semua…
Syukuri apa yg ada, karena hidup adalah anugerah bagi jiwa-jiwa yg ikhlas.
Good Morning
dan Tetap Semangat !
Saturday, July 28, 2012
Aku Memohon
Aku memohon Tuhan "tuk anugerahi aku kesabaran
Tuhan berkata "tidak"
kesabaran datang dari cobaan, itu tidak bisa diberikan, itu harus diraih
Aku memohon Tuhan "tuk anugerahi aku kebahagiaan"
Tuhan berkata "tidak"
kuberi kau rahmat, kebahagiaan ada ditanganmu
Aku memohon "Tuk jauhkan aku dari penderitaan
Tuhan berkata "tidak"
penderitaan akan jauhkan dirimu dari keduniawian & mendekatkan dirimu kepadaKU
Aku memohon Tuhan segala sesuatu yang membuatku menikmati hidup
Tuhan berkata "tidak"
aku kan beri kamu kehidupan sehingga kau dapat menikmati segala sesuatu
Aku memohon Tuhan tuk membantuku dapat mencintai sesama, seperti dia mencintaiku
Tuhan berkata "Nah"
sekarang barulah kau paham, tentu kan kukabulkan permohonan ini
= ANONIM =
Tuhan memberikan apa yang anda perlukan
Bukan yang anda minta
Wednesday, July 25, 2012
Tuesday, July 24, 2012
MERAIH AMPUNAN DI BULAN RAMADHAN
MERAIH AMPUNAN DI BULAN RAMADHAN
Tak
terasa, Ramadhan telah melangkah ke setengah perjalanan. Hanya Allah
dan kita sendiri yang tahu, apakah waktu yang sudah terlewat telah
termanfaatkan dengan baik untuk ber-taqarrub kepada Allah, ataukah
sia-sia belaka—hanya haus dan lapar saja yang melekat di badan,
sementara rahmat dan ampunan Allah jauh dari pelupuk mata.
Rasulullah saw. telah bersabda:
Siapa saja yang berpuasa pada bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan hanya mengharapkan pahala Allah semata maka diampunilah dosanya yang telah berlalu. (HR al-Bukhari dan Muslim).
Allah SWT Yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang, melalui sabda Nabi saw. tersebut, telah menegaskan kepada kaum Muslim tentang berita pengampunan pada bulan Ramadhan. Sungguh, ini adalah bentuk kebesaran dan kasih sayang Sang Pencipta kepada makhluk-Nya.
Bulan Ramadhan merupakan bulan yang penuh dengan pengampunan. Oleh sebab itu, pada bulan Ramadhan umat Islam diperintahkan untuk banyak memohon ampunan kepada Allah Yang Maha Pengampun. Berkaitan dengan ini, Rasulullah saw. dalam salah satu khuthbahnya sebelum memasuki Ramadhan menyatakan, “Dialah bulan yang permulaannya rahmat, pertengahannya pengampunan, dan akhirnya kemerdekaan dari api neraka.” Lalu beliau melanjutkan, ”Karenanya, perbanyaklah empat perkara pada bulan Ramadhan: dua perkara untuk Rabb-nya dan dua perkara kalian menyukainya. Dua perkara untuk Rabb-nya adalah mengakui dengan sesungguhnya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah dan memohon ampunan kepada-Nya. Adapun dua perkara yang kalian sukai adalah memohon surga dan berlindung dari neraka.” (HR Ibnu Huzaimah dari Salman Al Farisi).
Dosa merupakan konsekuensi dari perbuatan maksiat kepada Allah SWT, baik karena mengabaikan kewajiban ataupun melakukan keharaman. Manusia sering berbuat dosa, siang maupun malam hari. Di rumah, di masjid, di kantor, di angkot, di bis, di kendaraan pribadi, di kereta api, di terminal, di stasiun, di bandara, di sekolah, di kampus, di pabrik dan dimana saja seseorang sangat mungkin berbuat kesalahan. Berbuat salah memang sudah sunnatullah. Sebab, Rasul sendiri telah menyatakan bahwa manusia itu tempat salah dan lupa. Untuk itu, Allah SWT memerintahkan hamba-Nya untuk sering meminta ampunan kepada-Nya. Allah SWT berfirman:
Orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka segera mengingat Allah, lalu memohon ampunan atas dosa-dosa mereka—dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedangkan mereka mengetahui. (QS Ali Imran [3]: 135).
Ayat di atas secara gamblang menunjukkan bahwa adanya kesempatan pengampunan dari Allah SWT merupakan salah satu wujud kasih sayang-Nya. Betapa banyak ayat-ayat al-Quran yang menggabungkan kata Ghafûr (Maha Pengampun) dengan Rahîm (Maha Penyayang). Karenanya, ketika seorang Muslim meminta ampunan kepada Allah SWT, dia merasakan penyesalan dan harapan pengampunan. Pada saat yang sama, ia merasakan betapa besarnya kasih-sayang Allah SWT kepada hamba-Nya; sudahlah dia berbuat dosa, Dia Yang Maha Pengampun masih membuka pintu pengampunan baginya.
Selain itu, nash di atas juga menggambarkan bahwa kaum Muslim harus senantiasa memohon ampunan kepada Allah SWT. Memang, jika Allah SWT menghendaki, dapat saja suatu dosa seseorang langsung Dia ampuni. Namun, Dia sendiri memerintahkan kepada manusia untuk sering meminta ampunan kepada-Nya. Baru kemudian, Allah SWT akan mengampuninya. Allah SWT sendiri pasti akan mengampuni semua dosa manusia, kecuali dosa syirik, tentu selama manusia tidak mau bertobat sampai akhir hayatnyaAllah SWT berfirman:
Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan Dia mengampuni segala dosa selain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Siapa saja yang mempersekutukan Allah, maka ia sungguh telah berbuat dosa yang besar. (QS an-Nisa [4]: 48).
Di samping Allah SWT telah menyuruh setiap Muslim untuk sering memohon ampunan kepada-Nya, Rasulullah saw. juga telah memberikan teladan kepadanya. Dalam hadisnya, Rasul pernah bersabda:
Demi Allah, sesungguhnya aku benar-benar meminta ampunan kepada Allah dan bertobat kepada-Nya lebih dari tujuh puluh kali sehari. (HR al-Bukhari dan Muslim)
Padahal Rasulullah saw. adalah seorang yang maksum, atau terpelihara dari dosa. Beliau dijamin masuk surga. Namun, beliau tetap terus memohon ampunan kepada Allah Yang Maha Pengampun dan Maha Penyayang. Karena itu, Muslim yang menjadikan Baginda Rasul sebagai suri teladannya akan berupaya untuk sering meminta ampunan, khususnya pada bulan Ramadhan. Betapa tidak, kesalahan hampir tidak terasa terus menumpuk. Jika dibiarkan dosa itu akan menggunung, sulit dihilangkan, bahkan lupa tidak teringat lagi. Hal ini dapat mengakibatkan binasanya orang tersebut. Jiwa berkarat, berlumur penuh dosa. Melalui permintaan ampunan kepada Allah, insya Allah, hal ini dapat dihindari.
Allah SWT Maha Penyayang. Dia tidak pilih kasih dalam memberikan ampunan kepada hamba-Nya. Apapun dosanya, berapapun banyaknya, selama hamba mau bertobat, Dia akan mengampuninya.
Katakanlah, “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS az-Zumar [39]: 53).
Untuk itu, pada kesempatan Ramadhan yang penuh ampunan ini, seorang Muslim sudah seharusnya banyak meminta ampunan kepada Allah SWT. Di samping itu, dia akan senantiasa melakukan muhâsabah (instrospeksi diri), dengan mengajukan banyak pertanyaan kepada dirinya sendiri tentang berbagai hal. Berapa banyakkah ia melalaikan shalat? Sudahkah shalatnya mampu mencegah dirinya dari perbuat keji dan mungkar? Sudahkah ia berpuasa sesuai dengan syariat? Sudahkah puasanya itu mengantarkan dirinya menjadi orang yang bertakwa kepada Allah? Dalam berpakaian, sudahkah ia menutup aurat secara sempurna, atau masih tetap memamerkannya? Adakah makanan dan minuman haram masuk ke dalam perut? Dalam bergaul, apakah ia telah terikat dengan aturan Islam, ataukah masih bergaul bebas yang mendekati zina? Allah SWT memerintahkan membina keluarga berdasarkan Islam, sudahkah ia melaksanakannya?
Pendidikan anak, sudahkah sesuai dengan Islam? Di hadapan mata, di sana-sini tampak kemungkaran, Allah SWT memerintahkan mencegahnya, sudahkah ia menunaikan perintah itu, atau masih tetap tidak acuh terhadap kondisi tersebut, atau justru malah dia sendiri sering melakukan kemungkaran? Masihkah dia menjadikan orang kafir sebagai pemimpin, pelindung, penolong, dan teman dekat; padahal keharaman tindakan demikian jelas tertuang dalam al-Quran? Sudahkah dia melaksanakn kewajiban dakwah yang telah Allah SWT bebankan kepadanya? Allah SWT mewajibkan menegakkan hukum Islam melalui pemerintahan Islam, sudahkah kita termasuk ke dalam bagian dari orang-orang yang ikhlas memperjuangkannya, ataukah kita justru menjadi penghalang bagi bersemai dan berkembangnya dakwah?
Bagi yang memegang amanah kekuasaan (penguasa), sudahkah ia mengurusi urusan umat/rakyat sesuai dengan syariat Islam? Sudahkah aturan-aturan ataupun keputusan-keputusan yang dibuat membela rakyat, bukan membela pihak asing? Sudahkah peraturan perundangan yang dibuat menyejahterakan masyarakat, ataukah justru menyengsarakan mereka?
Sesungguhnya masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan lain yang harus diajukan seorang Muslim kepada dirinya sendiri.
Sungguh, Allah Mahaadil dalam membalas segala perbuatan yang dilakukan oleh manusia. Kalaupun tidak dibalas langsung oleh Allah di dunia maka pembalasan Allah di akhirat kelak sungguh sangat adil. Tidak pilih kasih.
Ketika seorang Muslim menemukan ada yang masih bertentangan dengan hukum Allah SWT, mengabaikan kewajiban atau melakukan keharaman, maka tidak ada cara lain kecuali ia harus segera memohon ampunan kepada Allah dan bertobat kepada-Nya dengan taubatan nashuha (tobat dengan sebenar-benarnya). Caranya adalah dengan menyesal dengan penyesalan yang dalam; tidak akan pernah terbersit lagi dalam pikirannya untuk mengulanginya lagi dan selanjutnya berupaya untuk memperbaikinya; jika perbuatannya yang buruk terkait dengan orang lain maka ia segera meminta maaf kepadanya; jika kesalahannya terkait dengan keputusan-keputusan atau aturan-aturan yang yang menzalimi rakyat maka segera ia mencabutnya, meminta maaf kepada umat, serta segera menggantinya dengan keputusan yang mengayomi dan melindungi umat. Jika tidak demikian, yang rugi diri sendiri, bukan orang lain. Sungguh, Allah tidaklah bisa disuap apalagi dipermainkan.
Wahai Kaum Muslim:
Seorang Mukmin, teristimewa saat bulan Ramadhan ini, akan menunaikan perintah Allah SWT:
Berlomba-lombalah kalian mendapatkan ampunan dari Tuhan kalian dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-rasul-Nya. Itulah karunia Allah, diberikannya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Allah memiliki karunia yang agung. (QS al-Hadid [57]: 21).
Sejumlah ahli tafsir menjelaskan, bersegera menuju ampunan Allah maknanya adalah bersegera menuju sesuatu yang akan mendatangkan ampunan Allah itu, tidak lain adalah bersegera menuju ketaatan kepada-Nya.
Kiat Agar Taubat Diterima
Sepuluh hari yang penuh limpahan rahmat di bulan ramadhan telah kita lalui. Sepuluh hari kedepan adalah hari yang dijanjikan Allah sebagai waktu dilimpahkannya maghfirah atau ampunan. Inilah waktunya bagi kita, untuk bertaubat secara sungguh-sungguh, agar diri kita betul-betul bersih dari noda dosa masa silam. Taubat Nasuha atau taubat yang sungguh-sungguh itu memiliki beberapa syarat. Berikut syarat-syaratnya :
1. Menyesali atas dosa dan maksiat yang telah dilakukan.
Seorang hamba yang berdosa, bila ingin bertaubat harus menyesali perbuatan dosa dan maksiat yang terlanjur diperbuatnya. Tanpa perasaan menyesal, taubat kita belum bisa dikatakan nasuha atau bersungguh-sungguh.
Rasulullah saw. telah bersabda:
Siapa saja yang berpuasa pada bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan hanya mengharapkan pahala Allah semata maka diampunilah dosanya yang telah berlalu. (HR al-Bukhari dan Muslim).
Allah SWT Yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang, melalui sabda Nabi saw. tersebut, telah menegaskan kepada kaum Muslim tentang berita pengampunan pada bulan Ramadhan. Sungguh, ini adalah bentuk kebesaran dan kasih sayang Sang Pencipta kepada makhluk-Nya.
Bulan Ramadhan merupakan bulan yang penuh dengan pengampunan. Oleh sebab itu, pada bulan Ramadhan umat Islam diperintahkan untuk banyak memohon ampunan kepada Allah Yang Maha Pengampun. Berkaitan dengan ini, Rasulullah saw. dalam salah satu khuthbahnya sebelum memasuki Ramadhan menyatakan, “Dialah bulan yang permulaannya rahmat, pertengahannya pengampunan, dan akhirnya kemerdekaan dari api neraka.” Lalu beliau melanjutkan, ”Karenanya, perbanyaklah empat perkara pada bulan Ramadhan: dua perkara untuk Rabb-nya dan dua perkara kalian menyukainya. Dua perkara untuk Rabb-nya adalah mengakui dengan sesungguhnya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah dan memohon ampunan kepada-Nya. Adapun dua perkara yang kalian sukai adalah memohon surga dan berlindung dari neraka.” (HR Ibnu Huzaimah dari Salman Al Farisi).
Dosa merupakan konsekuensi dari perbuatan maksiat kepada Allah SWT, baik karena mengabaikan kewajiban ataupun melakukan keharaman. Manusia sering berbuat dosa, siang maupun malam hari. Di rumah, di masjid, di kantor, di angkot, di bis, di kendaraan pribadi, di kereta api, di terminal, di stasiun, di bandara, di sekolah, di kampus, di pabrik dan dimana saja seseorang sangat mungkin berbuat kesalahan. Berbuat salah memang sudah sunnatullah. Sebab, Rasul sendiri telah menyatakan bahwa manusia itu tempat salah dan lupa. Untuk itu, Allah SWT memerintahkan hamba-Nya untuk sering meminta ampunan kepada-Nya. Allah SWT berfirman:
Orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka segera mengingat Allah, lalu memohon ampunan atas dosa-dosa mereka—dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedangkan mereka mengetahui. (QS Ali Imran [3]: 135).
Ayat di atas secara gamblang menunjukkan bahwa adanya kesempatan pengampunan dari Allah SWT merupakan salah satu wujud kasih sayang-Nya. Betapa banyak ayat-ayat al-Quran yang menggabungkan kata Ghafûr (Maha Pengampun) dengan Rahîm (Maha Penyayang). Karenanya, ketika seorang Muslim meminta ampunan kepada Allah SWT, dia merasakan penyesalan dan harapan pengampunan. Pada saat yang sama, ia merasakan betapa besarnya kasih-sayang Allah SWT kepada hamba-Nya; sudahlah dia berbuat dosa, Dia Yang Maha Pengampun masih membuka pintu pengampunan baginya.
Selain itu, nash di atas juga menggambarkan bahwa kaum Muslim harus senantiasa memohon ampunan kepada Allah SWT. Memang, jika Allah SWT menghendaki, dapat saja suatu dosa seseorang langsung Dia ampuni. Namun, Dia sendiri memerintahkan kepada manusia untuk sering meminta ampunan kepada-Nya. Baru kemudian, Allah SWT akan mengampuninya. Allah SWT sendiri pasti akan mengampuni semua dosa manusia, kecuali dosa syirik, tentu selama manusia tidak mau bertobat sampai akhir hayatnyaAllah SWT berfirman:
Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan Dia mengampuni segala dosa selain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Siapa saja yang mempersekutukan Allah, maka ia sungguh telah berbuat dosa yang besar. (QS an-Nisa [4]: 48).
Di samping Allah SWT telah menyuruh setiap Muslim untuk sering memohon ampunan kepada-Nya, Rasulullah saw. juga telah memberikan teladan kepadanya. Dalam hadisnya, Rasul pernah bersabda:
Demi Allah, sesungguhnya aku benar-benar meminta ampunan kepada Allah dan bertobat kepada-Nya lebih dari tujuh puluh kali sehari. (HR al-Bukhari dan Muslim)
Padahal Rasulullah saw. adalah seorang yang maksum, atau terpelihara dari dosa. Beliau dijamin masuk surga. Namun, beliau tetap terus memohon ampunan kepada Allah Yang Maha Pengampun dan Maha Penyayang. Karena itu, Muslim yang menjadikan Baginda Rasul sebagai suri teladannya akan berupaya untuk sering meminta ampunan, khususnya pada bulan Ramadhan. Betapa tidak, kesalahan hampir tidak terasa terus menumpuk. Jika dibiarkan dosa itu akan menggunung, sulit dihilangkan, bahkan lupa tidak teringat lagi. Hal ini dapat mengakibatkan binasanya orang tersebut. Jiwa berkarat, berlumur penuh dosa. Melalui permintaan ampunan kepada Allah, insya Allah, hal ini dapat dihindari.
Allah SWT Maha Penyayang. Dia tidak pilih kasih dalam memberikan ampunan kepada hamba-Nya. Apapun dosanya, berapapun banyaknya, selama hamba mau bertobat, Dia akan mengampuninya.
Katakanlah, “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS az-Zumar [39]: 53).
Untuk itu, pada kesempatan Ramadhan yang penuh ampunan ini, seorang Muslim sudah seharusnya banyak meminta ampunan kepada Allah SWT. Di samping itu, dia akan senantiasa melakukan muhâsabah (instrospeksi diri), dengan mengajukan banyak pertanyaan kepada dirinya sendiri tentang berbagai hal. Berapa banyakkah ia melalaikan shalat? Sudahkah shalatnya mampu mencegah dirinya dari perbuat keji dan mungkar? Sudahkah ia berpuasa sesuai dengan syariat? Sudahkah puasanya itu mengantarkan dirinya menjadi orang yang bertakwa kepada Allah? Dalam berpakaian, sudahkah ia menutup aurat secara sempurna, atau masih tetap memamerkannya? Adakah makanan dan minuman haram masuk ke dalam perut? Dalam bergaul, apakah ia telah terikat dengan aturan Islam, ataukah masih bergaul bebas yang mendekati zina? Allah SWT memerintahkan membina keluarga berdasarkan Islam, sudahkah ia melaksanakannya?
Pendidikan anak, sudahkah sesuai dengan Islam? Di hadapan mata, di sana-sini tampak kemungkaran, Allah SWT memerintahkan mencegahnya, sudahkah ia menunaikan perintah itu, atau masih tetap tidak acuh terhadap kondisi tersebut, atau justru malah dia sendiri sering melakukan kemungkaran? Masihkah dia menjadikan orang kafir sebagai pemimpin, pelindung, penolong, dan teman dekat; padahal keharaman tindakan demikian jelas tertuang dalam al-Quran? Sudahkah dia melaksanakn kewajiban dakwah yang telah Allah SWT bebankan kepadanya? Allah SWT mewajibkan menegakkan hukum Islam melalui pemerintahan Islam, sudahkah kita termasuk ke dalam bagian dari orang-orang yang ikhlas memperjuangkannya, ataukah kita justru menjadi penghalang bagi bersemai dan berkembangnya dakwah?
Bagi yang memegang amanah kekuasaan (penguasa), sudahkah ia mengurusi urusan umat/rakyat sesuai dengan syariat Islam? Sudahkah aturan-aturan ataupun keputusan-keputusan yang dibuat membela rakyat, bukan membela pihak asing? Sudahkah peraturan perundangan yang dibuat menyejahterakan masyarakat, ataukah justru menyengsarakan mereka?
Sesungguhnya masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan lain yang harus diajukan seorang Muslim kepada dirinya sendiri.
Sungguh, Allah Mahaadil dalam membalas segala perbuatan yang dilakukan oleh manusia. Kalaupun tidak dibalas langsung oleh Allah di dunia maka pembalasan Allah di akhirat kelak sungguh sangat adil. Tidak pilih kasih.
Ketika seorang Muslim menemukan ada yang masih bertentangan dengan hukum Allah SWT, mengabaikan kewajiban atau melakukan keharaman, maka tidak ada cara lain kecuali ia harus segera memohon ampunan kepada Allah dan bertobat kepada-Nya dengan taubatan nashuha (tobat dengan sebenar-benarnya). Caranya adalah dengan menyesal dengan penyesalan yang dalam; tidak akan pernah terbersit lagi dalam pikirannya untuk mengulanginya lagi dan selanjutnya berupaya untuk memperbaikinya; jika perbuatannya yang buruk terkait dengan orang lain maka ia segera meminta maaf kepadanya; jika kesalahannya terkait dengan keputusan-keputusan atau aturan-aturan yang yang menzalimi rakyat maka segera ia mencabutnya, meminta maaf kepada umat, serta segera menggantinya dengan keputusan yang mengayomi dan melindungi umat. Jika tidak demikian, yang rugi diri sendiri, bukan orang lain. Sungguh, Allah tidaklah bisa disuap apalagi dipermainkan.
Wahai Kaum Muslim:
Seorang Mukmin, teristimewa saat bulan Ramadhan ini, akan menunaikan perintah Allah SWT:
Berlomba-lombalah kalian mendapatkan ampunan dari Tuhan kalian dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-rasul-Nya. Itulah karunia Allah, diberikannya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Allah memiliki karunia yang agung. (QS al-Hadid [57]: 21).
Sejumlah ahli tafsir menjelaskan, bersegera menuju ampunan Allah maknanya adalah bersegera menuju sesuatu yang akan mendatangkan ampunan Allah itu, tidak lain adalah bersegera menuju ketaatan kepada-Nya.
Kiat Agar Taubat Diterima
Sepuluh hari yang penuh limpahan rahmat di bulan ramadhan telah kita lalui. Sepuluh hari kedepan adalah hari yang dijanjikan Allah sebagai waktu dilimpahkannya maghfirah atau ampunan. Inilah waktunya bagi kita, untuk bertaubat secara sungguh-sungguh, agar diri kita betul-betul bersih dari noda dosa masa silam. Taubat Nasuha atau taubat yang sungguh-sungguh itu memiliki beberapa syarat. Berikut syarat-syaratnya :
1. Menyesali atas dosa dan maksiat yang telah dilakukan.
Seorang hamba yang berdosa, bila ingin bertaubat harus menyesali perbuatan dosa dan maksiat yang terlanjur diperbuatnya. Tanpa perasaan menyesal, taubat kita belum bisa dikatakan nasuha atau bersungguh-sungguh.
2. Memohon ampun kepada Allah SWT, meminta maaf kepada manusia.
Bila kita kerap meninggalkan ibadah-ibadah mahdhah yang diwajibkan Allah SWT, maka mohon ampunlah kepada Allah SWT dan segeralah memperbaiki ibadah-ibadah yang sering kita lalaikan. Jika shalat masih sering diakhirkan maka segera awalkan, jika tidak pernah berpuasa maka segeralah melakukan shaum.
Untuk perkara-perkara ghayr mahdhah yang ada hubungannya dengan manusia, maka selain memohon ampun dan menyesali kedzhaliman kita, minta maaflah kepada orang yang telah kita sakiti. Bila orang itu berada jauh atau bahkan sudah meninggal, berdoalah demi kebaikannya, agar Allah menggerakkan hatinya untuk ridla terhadap apa yang telah kita perbuat. Tapi jika orang tersebut mudah untuk diajak bertatap muka dan mudah kita kunjungi, maka lebih utama bila kita mendatanginya untuk meminta maaf.
3. Bertekad untuk tidak mengulangi dosa atau maksiat serupa.
Niatkan dalam hati untuk tidak mengulangi dosa atau maksiat serupa. Sibukkan diri kita dengan memperbaiki ibadah mahdhah dan memperbaiki hubungan dengan sesama. Sehingga seluruh panca indera dan jiwa kita terbiasa melakukan kebaikan.(red/aea)
Walhasil, marilah kita menuju ampunan Allah dengan cara menjalankan ketaatan secara total kepada-Nya, tidak lain dengan cara melaksanakan seluruh aturan-aturan-Nya dalam seluruh aspek kehidupan kita. Berharap akan ampunan Allah tetapi tetap tidak mau melaksanakan seluruh aturan Allah tentu merupakan tindakan yang bertolak belakang.
Karena itu, hendaknya setiap Muslim menjadikan bulan Ramadhan ini sebagai momentum untuk melaksanakan ketaatan secara total kepada Allah dengan menjalankan seluruh syariat-Nya. Hanya dengan itulah Ramadhan kali ini akan jauh lebih bermakna. Wallâhu a‘lam bi ash-shawâb.
Sumber : http://dkm-manarulamal.blogspot.com
Sunday, July 22, 2012
Kudu Weruh
Syd. Abu Bakar rha. Berkata : Orang yang bakhil itu tidak akan terlepas
daripada salah satu daripada
4 sifat yang membinasakan, yaitu:
Syd. Umar Al Khattab Rha. Berkata :
Syd. Othman Ibnu Affan Rha. Berkata :
Antara tanda-tanda orang yang bijaksana itu ialah:
Syd. Ali Karramallahu Wajhah berkata :
Enam Ciri Kebodohan
Kebodohan sangatlah penting untuk dihindari, sehingga kita harus mengerti dan
mengetahui tindakan - tindakan yang bodoh.
Syekh Sihabuddin al-Qalyubi, dalam kitab Al-Nawadir, mengemukakan enam ciri
kebodohan. Yaitu marah tanpa alasan yang tepat, berbicara tanpa manfaat,
memberi tidak pada tempatnya, membukakan rahasia kepada sembarang orang,
terlalu percaya kepada setiap orang dan tidak mengenal siapa kawan siapa lawan.
Empat Macam Manusia Jenis manusia dan pengetahuan akan dirinya sendiri
Empat Larangan
Waspadalah terhadap empat macam keburukan: sombong, dengki, marah (emosi) dan
syahwat yang tidak terkendali Angkuh dan sombong mencegah orang untuk mematuhi
dan mentaati perintah dan larangan syariat.
Hasud (dengki) mencegah orang untuk menerima nasihat atau memberi nasihat.
Marah (emosi) mencegah orang untuk berbuat adil.
Mengikuti nafsu syahwat dapat mencegah orang menggunakan waktunya untuk
beribadah kepada Allah SWT.
Empat Waktu
Waktu yang harus dimanfaatkan dengan ibadah Empat Waktu
Sebagian ulama yang arif mengatakan, "Setiap hamba Allah mempunyai empat waktu,
dan tidak ada kelimanya.
Keempat waktu itu ialah:
Waktu mendapat nikmat;
Waktu mendapat ujian dan cabaan;
Waktu melakukan ketaatan; dan
Waktu melakukan maksiat.
Pada setiap waktu tersebut terdapat hak Allah sebagai Rabbmu, yakni waktu beribadah kepada-Nya.
Barangsiapa waktunya digunakan untuk mendapatkan kenikmatan Allah, jalannya
ialah bersyukur kepada-Nya. Barangsiapa waktunya mendapat ujian dan cabaan,
jalannya ialah ridha dan sabar. Barangsiapa waktunya untuk melakukan ketaatan,
jalannya ialah anugerah Allah yang memberi petunjuk. Dan barangsiapa waktunya
untuk melakukan maksiat, jalannya adalah bertaubat dan beristighfar."
Obat Penghapus Dosa
Seorang tabib di kota Bashrah, menguraikan resep penghapus
dosa dan penyembuh penyakit hati.
Resep itu kemudian dikisahkan oleh Hasan al-Bashri, sebagai berikut:
"Ambillah akar pohon kefakiran dan kerendahan hati. Simpan kedua akar tersebut
dalam keranjang taubat. Tumbuklah dengan lesung ridha. Haluskan dengan saringan
qana'ah (puas hati). Masukkan ke dalam mangkuk takwa. Campur dengan air haya'
(rasa malu). Didihkan di atas api mahabbah (cinta). Tuangkan ke dalam bejana
syukur. Dinginkan dengan angin harapan. Dan minumlah dengan menggunakan sendok
hamdalah (pujian kepada Allah). Insya Allah engkau akan selamat dari segala
penyakit dan bencana, baik di dunia maupun di akhirat."
Jenis KesabaranKesabaran yang dapat kita lakukan.
Menurut Syekh Abu Ismail al-Harawi, penulis kitab Manazilus Sa'irin, sabar
terdiri dari tiga kategori. Pertama, sabar untuk tidak melakukan maksiat; yaitu
menahan nafsu karena mengingat ancaman Allah, serta berjaga-jaga dari perbuatan
yang diharamkan Allah. Kedua, sabar dalam ketaatan; yaitu memelihara dan
menjaga diri agar tetap berada dalam keikhlasan dan kesadaran. Ketiga, sabar
terhadap musibah yang menimpa, karena punya harapan bahwa pertolongan Allah
akan segera tiba; juga karena memahami bahwa musibah tersebut lebih kecil
daripada karunia nikmat Allah yang pernah dan akan terus diterima.
Sumber : www.pesantrenonline.com
daripada salah satu daripada
4 sifat yang membinasakan, yaitu:
- Ia akan mati dan hartanya akan diambil oleh warisnya, lalu dibelanjakan bukan pada tempatnya.
- Hartanya akan diambil secara paksa oleh penguasa yang zalim.
- Hartanya menjadi rebutan orang-orang jahat dan akan dipergunakan untuk kejahatan pula.
- Adakalanya harta itu akan dicuri dan dipergunakan secara berfoya-foya pada jalan yang tidak berguna.
Syd. Umar Al Khattab Rha. Berkata :
- Orang yang banyak ketawa itu kurang wibawanya.
- Orang yang suka menghina orang lain, dia juga akan dihina.
- Orang yang menyintai akhirat, dunia pasti menyertainya.
- Barangsiapa menjaga kehormatan orang lain, pasti kehormatan dirinya akan terjaga.
Syd. Othman Ibnu Affan Rha. Berkata :
Antara tanda-tanda orang yang bijaksana itu ialah:
- Hatinya selalu berniat suci
- Lidahnya selalu basah dengan zikrullah
- Kedua matanya menangis kerana penyesalan (terhadap dosa)
- Segala perkara dihadapainya dengan sabar dan tabah
- Mengutamakan kehidupan akhirat daripada kehidupan dunia.
Syd. Ali Karramallahu Wajhah berkata :
- Tiada sholat yang sempurna tanpa jiwa yang khusyu'.
- Tiada puasa yang sempurna tanpa mencegah diri daripada perbuatan yang sia-sia.
- Tiada kebaikan bagi pembaca al-Qur'an tanpa mengambil pangajaran daripadanya.
- Tiada kebaikan bagi orang yang berilmu tanpa memiliki sifat wara' (memelihara diri dan hati-hati dari dosa).
- Tiada kebaikan mengambil teman tanpa saling sayang- menyayangi.
- Nikmat yang paling baik ialah nikmat yang kekal dimiliki.
- Doa yang paling sempurna ialah doa yang dilandasi keikhlasan.
- Barangsiapa yang banyak bicara, maka banyak pula salahnya,siapa yang banyak salahnya, maka hilanglah harga dirinya,siapa yang hilang harga dirinya, berarti dia tidak wara', sedang orang yang dak wara' itu berarti hatinya mati.
Enam Ciri Kebodohan
Kebodohan sangatlah penting untuk dihindari, sehingga kita harus mengerti dan
mengetahui tindakan - tindakan yang bodoh.
Syekh Sihabuddin al-Qalyubi, dalam kitab Al-Nawadir, mengemukakan enam ciri
kebodohan. Yaitu marah tanpa alasan yang tepat, berbicara tanpa manfaat,
memberi tidak pada tempatnya, membukakan rahasia kepada sembarang orang,
terlalu percaya kepada setiap orang dan tidak mengenal siapa kawan siapa lawan.
Empat Macam Manusia Jenis manusia dan pengetahuan akan dirinya sendiri
- Seseorang yang tahu dan mengetahui bahwa dia tahu. Itulah orang alim, maka ikutilah dia.
- Seseorang yang tahu dan tidak mengetahui bahwa dia tahu. Itulah orang yang sedang tidur, maka bangunkanlah dia.
- Seseorang yang tidak tahu dan mengetahui bahwa dia tidak tahu. Itulah orang yang membutuhkan petunjuk, maka ajarilah dia.
- Seseorang yang tidak tahu dan tidak mengetahui bahwa dia tidak tahu. Itu1ah orang jahil, maka jauhilah dia.
Empat Larangan
Waspadalah terhadap empat macam keburukan: sombong, dengki, marah (emosi) dan
syahwat yang tidak terkendali Angkuh dan sombong mencegah orang untuk mematuhi
dan mentaati perintah dan larangan syariat.
Hasud (dengki) mencegah orang untuk menerima nasihat atau memberi nasihat.
Marah (emosi) mencegah orang untuk berbuat adil.
Mengikuti nafsu syahwat dapat mencegah orang menggunakan waktunya untuk
beribadah kepada Allah SWT.
Empat Waktu
Waktu yang harus dimanfaatkan dengan ibadah Empat Waktu
Sebagian ulama yang arif mengatakan, "Setiap hamba Allah mempunyai empat waktu,
dan tidak ada kelimanya.
Keempat waktu itu ialah:
Waktu mendapat nikmat;
Waktu mendapat ujian dan cabaan;
Waktu melakukan ketaatan; dan
Waktu melakukan maksiat.
Pada setiap waktu tersebut terdapat hak Allah sebagai Rabbmu, yakni waktu beribadah kepada-Nya.
Barangsiapa waktunya digunakan untuk mendapatkan kenikmatan Allah, jalannya
ialah bersyukur kepada-Nya. Barangsiapa waktunya mendapat ujian dan cabaan,
jalannya ialah ridha dan sabar. Barangsiapa waktunya untuk melakukan ketaatan,
jalannya ialah anugerah Allah yang memberi petunjuk. Dan barangsiapa waktunya
untuk melakukan maksiat, jalannya adalah bertaubat dan beristighfar."
Obat Penghapus Dosa
Seorang tabib di kota Bashrah, menguraikan resep penghapus
dosa dan penyembuh penyakit hati.
Resep itu kemudian dikisahkan oleh Hasan al-Bashri, sebagai berikut:
"Ambillah akar pohon kefakiran dan kerendahan hati. Simpan kedua akar tersebut
dalam keranjang taubat. Tumbuklah dengan lesung ridha. Haluskan dengan saringan
qana'ah (puas hati). Masukkan ke dalam mangkuk takwa. Campur dengan air haya'
(rasa malu). Didihkan di atas api mahabbah (cinta). Tuangkan ke dalam bejana
syukur. Dinginkan dengan angin harapan. Dan minumlah dengan menggunakan sendok
hamdalah (pujian kepada Allah). Insya Allah engkau akan selamat dari segala
penyakit dan bencana, baik di dunia maupun di akhirat."
Jenis KesabaranKesabaran yang dapat kita lakukan.
Menurut Syekh Abu Ismail al-Harawi, penulis kitab Manazilus Sa'irin, sabar
terdiri dari tiga kategori. Pertama, sabar untuk tidak melakukan maksiat; yaitu
menahan nafsu karena mengingat ancaman Allah, serta berjaga-jaga dari perbuatan
yang diharamkan Allah. Kedua, sabar dalam ketaatan; yaitu memelihara dan
menjaga diri agar tetap berada dalam keikhlasan dan kesadaran. Ketiga, sabar
terhadap musibah yang menimpa, karena punya harapan bahwa pertolongan Allah
akan segera tiba; juga karena memahami bahwa musibah tersebut lebih kecil
daripada karunia nikmat Allah yang pernah dan akan terus diterima.
Sumber : www.pesantrenonline.com
Saturday, July 21, 2012
Maut Menjemput, Siapa Kawanmu?
Mayit itu diikuti
oleh tiga golongan, akan kembali dua golongan dan satu golongan akan
tetap menemaninya, dia akan diikuti oleh keluarganya, hartanya dan
amalnya. Maka keluarga dan hartanya akan kembali pulang sementara
amalnya akan tetap menemaninya”. (HR.Bukhori dan Muslim)
Anak Adam mesti memiliki keluarga yang
selalu bergaul dengan dirinya, harta sebagai bekal hidupnya, dua
shahabat ini selalu menyertainya dan suatu saat akan berpisah dengannya.
Maka orang yang berbahagia adalah orang yang menjadikan harta sebagai
sarana untuk berdzikir kepada Alloh SUbhanahu waTa’ala, dan
menafkahkannya untuk kepentingan akhirat, dan dia mengambil harta itu
sebatas kebutuhan yang bisa menyampaikannya untuk kehidupan akherat, dia
mencari istri yang shalehah yang bisa menjaga keimanannya. Adapun orang
yang menjadikan harta dan keluarga yang menyibukkannya sehingga
melalaikan Alloh SUbhanahu waTa’ala maka dia temasuk orang yang merugi,
sebagaimana firman Alloh SUbhanahu waTa’ala :
“Harta dan keluarga kami telah merintangi kami, maka mohonkanlah ampunan untuk kami…”. (QS. Al-Fath: 11)
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barang siapa yang membuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi.. “(QS. Al-Munafiqun: 9)
Adapun teman pertama adalah keluarga,
maka keluaraga tidak akan memberikan manfaat apapun baginya setelah
kematiannya kecuali orang yang memintakan ampun baginya dan berdo’a
baginya. Bisa jadi keluaraganya tidak berdo’a baginya, sebab bisa jadi
orang lain yang lebih jauh, lebih memberikan manfaat bagi keluarganya,
sebagaimana yang pernah diungkapkan oleh orang-orang shaleh: Keluargamu
sibuk membagi warisan yang telah engkau tinggalkan, sementara ada orang
lain yang bersedih dengan kematianmu dan berdo’a untukmu pada saat
dirimu berada di antara himpitan lubang-lubang dalam tanah, dan di
antara keluarga itu ada yang menjadi musuh bagimu, sebagaimana firman
Alloh SUbhanahu waTa’ala:
“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu”. (QS. Al-Tagabun: 14)
Adapun teman yang kedua adalah harta,
maka dia tidak mengikuti pemiliknya dan tidak pula masuk ke dalam
kuburnya, dan kembalinya harta tersebut sebagai kalimat kiasan bahwa
harta itu tidak menemani pemiliknya di dalam kuburnya dan tidak masuk ke
dalam liang kubur pemiliknya.
“Anak Adam berkata: Hartaku, hartaku, Allah berfirman:
Apakah engkau memiliki harta wahai anak Adam kecuali apa yang engkau telah makan dan habis, atau engkau pakai lalu rusak, atau engkau sedekahkan lalu engkau berlalu membawanya dan apa-apa selain itu maka dia pergi dan ditinggalkan untuk orang lain”. (HR.Muslim)
Apakah engkau memiliki harta wahai anak Adam kecuali apa yang engkau telah makan dan habis, atau engkau pakai lalu rusak, atau engkau sedekahkan lalu engkau berlalu membawanya dan apa-apa selain itu maka dia pergi dan ditinggalkan untuk orang lain”. (HR.Muslim)
“Siapakah di antara kalian yang harta pewarisnya lebih dicintainya daripada harta dirinya sendiri?.
Para shahabat berkata: Wahai Rasulullah, tidak ada seorangpun di antara
kita kecuali hartanya lebih dicintainya. Beliau bersabda: Sesungguhnya
harta miliknya yang sebenarnya adalah apa yang telah dipersembahkan
(sebagai amal shaleh) sementara harta pewarisnya adalah apa yang
ditinggalkan”. (HR. Bukhori)
Maka seorang hamba tidak akan mengambil
manfaat apapun dari hartanya kecuali apa yang dipersembahkannya untuk
masa depan dirinya di (akherat kelak) dan menafkahkan harta itu di jalan
Alloh SUbhanahu waTa’ala, dan apa yang telah dimakan dan dipakainya,
maka dia bukan bagian yang menjadi miliknya (secara hakiki) dan bukan
pula dosa baginya dalam pemanfaatannya. Kecuali jika dia berniat dengan
niat amal shaleh, maka dia akan diberikan kepadanya pahala secara
mutlak.
Sebagian raja berkata kepada Abi Hazim yang hidup zuhud: Kenapa kita membenci kematian?.
Dia menjawab: Karena engkau mengagungkan dunia, engkau telah menjadikan hartamu di hadapan kedua matamu maka engkau pasti benci meninggalkannya dan seandainya engkau mempersiapkannya untuk akheratmu niscaya engkau akan senang menggunakannya untuk mengejarnya.
Dia menjawab: Karena engkau mengagungkan dunia, engkau telah menjadikan hartamu di hadapan kedua matamu maka engkau pasti benci meninggalkannya dan seandainya engkau mempersiapkannya untuk akheratmu niscaya engkau akan senang menggunakannya untuk mengejarnya.
“َKamu sekali-kali tidak
sampai kepada kebaikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan
sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka
sesungguhnya Allah mengetahuinya.” (QS. Ali Imron: 92)
Dan Ibnu Umar tidak bangga kepada
hartanya kecuali apa yang telah dipersembahkannya sebagai amal shaleh
karena Alloh SUbhanahu waTa’ala, sehingga pada suatu ketika pada saat
dia menunggang seekor onta, lalu dia kagum dengannya, maka diapun segera
turun darinya dan mengaraknya dan menjadikannya sebagai shadaqah di
jalan Alloh SUbhanahu waTa’ala.
Adapun teman yang ketiga,
Dia adalah amal yang mengikuti pemiliknya ke dalam kubur dan hidup
bersamanya dalam kubur tersebut, dia bersamanya pada saat dibangkitkan
menghadap Alloh SUbhanahu waTa’ala. Amal itu menyertainya pada saat
dikumpulkan di padang mahsyar, di atas shirot, pada saat ditimbang dan
dengan amal itu pula seseorang akan memperoleh tingkat kedudukannya di
surga atau di neraka.
“Barang siapa yang mengerjakan amal yang saleh maka (pahalanya)untuk dirinya sendiri dan barang siapa yang berbuat jahat maka (dosanya) atas dirinya sendiri; dan sekali-kali tidaklah Tuhanmu menganiaya hamba-hamba (Nya).” (QS. Fushilat: 46)
“Barang siapa yang kafir maka dia
sendirilah yang menanggung (akibat) kekafirannya itu; dan barang siapa
yang beramal saleh maka untuk diri mereka sendirilah mereka menyiapkan
(tempat yang menyenangkan),” (QS. Al-Rum: 44)
Sebagian ulama salaf (terdahulu) berkata
tentang tafsir ayat di atas atau mereka mempersiapkan bagi diri mereka
kebutuhan di dalam kubur mereka. Maka amal shaleh sebagai tempat yang
menyejukkan bagi yang mengerjakannya di dalam kubur, di mana saat di
dalam kubur seorang hamba tidak memiliki apapun yang pernah dinikmatinya
selama di dunia seperti kasur yang empuk, bantal dan ranjang-ranjang
tidur namun setiap orang akan tidur dengan ranjang amal, berbantal
kebaikan atau keburukan. Maka orang yang berakal adalah orang yang
membangun rumah tempat dia menetap dalam jangka waktu yang panjang,
walau seandainya dia membangunnya dengan puing-puing rumahnya yang roboh
yang akan ditinggalkannya maka dia tidak akan merugi, bahkan dia
beruntung.
Sebagian ulama salaf berkata, “Bekerjalah
untuk kepentingan duniamu sebatas lamanya masa kamu menetap padanya,
dan berbuatlah untuk akheratmu sebatas lamanya kamu tinggal padanya.
Al-Hasan berkata, “Seorang lelaki dari kaum muslimin mengikuti janazah
saudaranya lalu pada saat jenazah diturunkan di dalam liang kuburnya
lelaki itu berkata:
Aku tidak mengetahui yang mengikutimu dari dunia ini kecuali tiga helai kain, demi Allah aku meningalkan rumahku dengan barang-barang yang begitu banyak, demi Allah seandainya aku diberi kesempatan untuk pulang kerumah niscaya aku akan sedekahkan rumahku untuk kepentingan diriku. Al-Hasan berkata: Maka lelaki itupun kembali dan menyedekahkannya. Dan mereka tahu bahwa orang itu adalah Umar bin Abdul Aziz”.
Aku tidak mengetahui yang mengikutimu dari dunia ini kecuali tiga helai kain, demi Allah aku meningalkan rumahku dengan barang-barang yang begitu banyak, demi Allah seandainya aku diberi kesempatan untuk pulang kerumah niscaya aku akan sedekahkan rumahku untuk kepentingan diriku. Al-Hasan berkata: Maka lelaki itupun kembali dan menyedekahkannya. Dan mereka tahu bahwa orang itu adalah Umar bin Abdul Aziz”.
Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, semoga shalawat dan salam tetap tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad Shallallaahu’alaihi wasallam dan kepada keluarga, shahabat serta seluruh pengikut beliau.
Fatwa Seputar Puasa Ramadhan
A.FATWA RASULULLAH SHALLALLAHU ALAIHI WASALLAM SEKITAR PUASA :
- Seorang sahabat bertanya kepada beliau: “Wahai Rasulullah, Saya lupa sehingga makan dan minum, padahal saya sedang berpuasa.” Beliau menjawab : “Allah telah memberimu makan dan minum” (HR. Abu Daud). Dan dalam riwayat Ad-Daruquthni dengan sanad shahih disebutkan “Sempurnakan puasamu dan kamu tidak wajib mengqadhanya, sesungguhnya Allah telah memberimu makan dan minum” peristiwa itu terjadi pada hari pertama di bulan Ramadhan.
- Pernah juga beliau ditanya tentang benang putih dan hitam, jawab beliau : “Yaitu terangnya siang dan gelapnya malam.” (HR. An-Nasa’i). “Seorang sahabat bertanya: “Saya mendapati shalat shubuh dalam keadaan junub, lain saya berpuasa -bagaimana hukumnya-? Jawab beliau : “Aku juga pernah mendapati Shubuh dalam keadaan junub, lantas aku berpuasa. “Ia berkata: “Engkau tidak seperti kami wahai Rasulullah, karena Allah telah mengampuni semua dosamu baik yang lalu ataupun yang belakangan. Nabi shallallahu halaihi wasallam menjawab :“Demi Allah, sungguh aku berharap agar aku menjadi orang yang paling takut kepada Allah dan paling tahu akan sesuatu yang bisa dijadikan alat bertakwa.” (HR. Muslim).
- Beliau pernah ditanya tentang puasa di perjalanan, maka beliau menjawab : “Terserah Kamu, boleh berpuasa boleh pula berbuka.” (HR. Muslim).
- Hamzah bin ‘Amr pernah bertanya : “Wahai Rasulullah, saya mampu berpuasa dalam perjalanan, apakah saya berdosa?” Beliau menjawab : “Ia adalah rukhshah (keringanan) dari Allah, barangsiapa mengambilnya baik baginya dan barangsiapa lebih suka berpuasa maka ia tidak berdosa.”(HR. Muslim).
- Sewaktu ditanya tentang meng-qadha’ puasa dengan tidak berturut-turut, beliau menjawab : “Hal itu kembali kepada dirimu (tergantung kemampuanmu), bagaimana pendapatmu jika salah seorang di antara kamu mempunyai tanggungan hutang lalu mencicilnya dengan satu dirham dua dirham, tidakkah itu merupakan bentuk pelunasan? Allah Maha Pemaaf dan Pengampun.” (HR. Ad-DaYuquthni, isnadnya hasan).
- Ketika ditanya oleh seorang wanita: “Wahai Rasulullah, ibu saya telah meninggal sedangkan ia berhutang puasa nadzar, bolehkah saya berpuasa untuknya? Beliau menjawab : “Bagaimana pendapatmu jika ibumu memiliki tanggungan hutang lantas kamu lunasi, bukankah itu membuat lunas hutangnya? la berkata, ‘Benar’.
Nabi
shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Puasalah untuk ibumu.’ Hadits
Muttafaq ‘Alaih) (Lihat I’laarnul Muwaqqii’in ‘An Rabbil ‘Aalamiin, oleh
Ibnul Qayyim, 4/266-267)
B.SEBAGIAN FATWA IBNU TAIMIYAH
Beliau
ditanya tentang hukum berkumur dan memasukkan air ke rongga hidung
(istinsyaq), bersiwak, mencicipi makanan, muntah, keluar darah meminyaki
rambut dan memakai celak bagi seseorang yang sedang berpuasa, Jawaban
beliau : “Adapun berkumur dan memasukkan air ke rongga hidung adalah
disyari’atkan, hal ini sesuai dengan kesepakatan para ulama. Nabi
shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya juga melakukan hal itu,
tetapi beliau berkata kepada Al-Laqiit bin Shabirah :
“Berlebih-lebihanlah kamu dalam menghirup air ke hidung kecuali jika
kamu sedang berpuasa.” (HR. Abu Daud, At-Tirmidzi, An-Nasaa’i dan Ibnu
Maajah serta dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah).
Nabi
shallallahu ‘alaihi wasallam tidak melarang istinsyaq bagi orang yang
berpuasa, tetapi hanya melarang berlebih-lebihan dalam pelaksanaannya
saja.
Sedangkan
bersiwak adalah boleh, tetapi setelah zawal (matahari condong ke barat)
kadar makruhnya diperselisihkan, ada dua pendapat dalam masalah ini dan
keduanya diriwayatkan dari Imam Ahmad, namun belum ada dalil syar’i
yang menunjukkan makruhnya, yang dapat menggugurkan keumuman dalil
bolehnya bersiwak.
Mencicipi
makanan hukumnya makruh jika tanpa keperluan yang memaksa, tapi tidak
membatalkan puasa. Adapun jika memang sangat perlu, maka hal itu
bagaikan berkumur, dan boleh hukumnya.
Adapun
mengenai hukum muntah-muntah, jika memang disengaja dan dibikin-bikin
maka batal puasanya, tetapi jika datang dengan sendirinya tidak
membatalkan. Sedangkan memakai minyak rambut jelas tidak membatalkan
puasa.
Mengenai
hukum keluar darah yang tak dapat dihindari seperti darah istihadhah,
luka-luka, mimisan (keluar darah dari hidung) dan lain sebagainya adalah
tidak membatalkan puasa, tetapi keluarnya darah haid dan nifas
membatalkan puasa sesuai dengan kesepakatan para ulama.
Adapun
mengenakan celak (sipat mata) yang tembus sampai ke otak, maka Imam
Ahmad dan Malik berpendapat : Hal itu membatalkan puasa, tetapi Imam Abu
Hanifah dan Syafi’i berpendapat: hal itu tidak membatalkan. (Lihat
Majmu’ Fataawaa, oleh Ibnu Taimiyah, 25/266-267. Wallahu A ‘lam.
Ibnu
Taimiyah menambahkan dalam “Al-Ikhtiyaaraat” : “Puasa seseorang tidak
batal sebab mengenakan celak, injeksi (suntik), zat cair yang diteteskan
di saluran air kencing, mengobati luka-luka yang tembus sampai ke otak
dan luka tikaman yang tembus ke dalam rongga tubuh. Ini adalah pendapat
sebagian ulama. (Lihat Al Ikhtiyaraatul Fiqhiyah, hlm. 108) Wallahu A
‘lam’.
C.SEBAGIAN FATWA SYAIKH ABDURRAHIMAN NASIR ASSA’DI
Beliau
ditanya tentang orang yang meninggal sebelum melunasi puasa wajibnya,
bagaimana hukumnya? Jawaban beliau : “Jika ia meninggal sebelum membayar
puasa wajibnya, seperti orang yang meninggal dalam keadaan berhutang
puasa Ramadhan, kemudian diberikan kepadanya kesehatan, namun dia belum
sempat menunaikannya, maka waijb baginya memberi makan kepada satu orang
miskin setiap hari sesuai dengan jumlah puasa yang ia tinggalkan.
Menurut Ibnu Taimiyah, jika puasanya diwakili maka sah hukumnya, hal ini
kuat sumber hukumnya.
Kondisi kedua : Ia meninggal sebelum dapat menunaikan tanggungan hutangnya seperti sakit di bulan Ramadhan dan mati di pertengahannya, sedangkan ia tidak berpuasa karena sakit tersebut atau bahkan sakitnya berlangsung terus hingga ajalnya tiba. Hal ini tidak menjadikannya wajib membayar kaffarah meskipun kematiannya setelah rentang waktu yang cukup lama, karena ia tidak gegabah dan melalaikannya, demikian pula ia tidak meninggalkannya kecuali adanya udzur syar’i. (Lihat Al Irsyaadu Ilaa Ma’rifatil Ahkaam, hlm. 85-86.)
Dari
Aisyah radhiallahu ‘anha, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam
bersabda : “Barangsiapa meninggal dunia sedangkan in punya tanggungan
puasa, maka walinya boleh berpuasa menggantikannya.” (Muttafaq ‘Alaih).
Hadits ini menunjukkan anjuran berpuasa kepada orang yang masih hidup untuk si mayit, dan bahwasanya jika seseorang meninggal dalam keadaan memiliki hutang puasa, maka boleh digantikan oleh walinya.”
Imam Nawawi berkomentar : “Paraulama berbeda pendapat tentang mayit yang memiliki tanggungan puasa wajib, seperti puasa Ramadhan, qadha’ dan nadzar ataupun yang lain. Apakah wajib diqadha untuknya?
Dalam masalah ini Imam Syafi’i memiliki dua pendapat, yang terpopuler adalah, Tidak wajib diganti puasanya, sebab puasa pengganti untuk si mayit pada asalnya tidak sah. Adapun pendapat kedua, ‘Disunnahkan bagi walinya untuk berpuasa sebagai pengganti bagi si mayit, hingga si mayit terbebas dari tanggungannya dan tidak usah membayar kaffarah (memberi makan orang miskin sesuai dengan bilangan puasa yang ditinggalkannya). Pendapat inilah yang benar dan terbaik menurut keyakinan kami. Dan pendapat inipun dibenarkan oleh para penelaah madzhab kami -yang menghimpun dan menyatukan disiplin ilmu fiqh dan hadits- berdasarkan hadits-hadits shahih diatas. (Lihat Al Majmu’atul Jalilah, hlm. 158.) Wallahu A ‘lam. ”
D.BEBERAPA FATWA ULAMA NEJED (ARAB SAUDI)
- Syaikh Abdullah bin Syaikh Muhammad ditanya mengenai mulai kapan seorang anak yang menginjak dewasa diperintah melakukan ibadah puasa? Beliau menjawab : “Anak yang belum dewasa jika ia mampu berpuasa maka pantas diperintah melaksanakannya, dan bila meninggalkannya diberi hukuman.
- Syaikh Hamd bin Atiq ditanya tentang seorang wanita yang mendapati darah sebelum terbenam matahari, apakah puasanya dinyatakan sah? Beliau menjawab : “Puasanya tidak sempurna pada hari itu.”
- Syaikh Abdulah bin Syaikh Muhammad ditanya mengenai orang yang makan (berbuka) di bulan Ramadhan, bagaimana hukumnya? Beliau menjawab : “Orang yang makan di siang hari bulan Ramadhan atau minum harus diberi pelajaran (dengan hnkuman) supaya jera.”
- Syaikh Abdullah Ababathin ditanya tentang orang yang berpuasa mendapatkan aroma sesuatu, bagaimana hukumnya? Beliau menjawab : “Semua aroma yang tercium oleh orang yang sedang menunaikan ibadah puasa tidak membatalkan puasanya kecuali bau rokok, jika ia menciumnya dengan sengaja maka batallah puasanya. Tetapi jika asap rokok masuk ke hidungnya tanpa disengaja tidak membatalkan, sebab amat sulit untuk menghindarinya. Wallahu A’lam”
Semoga
shalawat dan salam senantiasa dilimpahkan kepada Nabi MUhammad
Shallallahu ‘alaihi wa sallam, segenap keluarga dan sababatnya, amin.
Wednesday, July 18, 2012
Kopi Asin
Seorang pria
bertemu dengan seorang gadis di sebuah pesta, si Gadis tampil luar biasa
cantiknya, banyak lelaki yang mencoba mengejar si Gadis. Sedangkan si
Pria sebetulnya tampil biasa saja dan tak ada yang begitu memperhatikan
dia, tapi pada saat pesta selesai dia memberanikan diri mengajak si
Gadis untuk sekedar mencari minuman hangat. Si Gadis agak terkejut, tapi
karena kesopanan si Pria itu, si Gadis mengiyakan ajakannya. Dan mereka
berdua akhirnya duduk di sebuah coffee shop, tapi si Pria sangat gugup
untuk berkata apa-apa suasana hening ini berlangsung cukup lama, dan
akhirnya si Gadis mulai merasa tidak nyaman dan berkata, "Kita pulang
aja yuk
....Namun, tiba-tiba
si Pria meminta sesuatu pada sang Pramusaji, "Bisa minta garam buat
kopi saya?" Semua orang yang mendengar memandang dengan heran ke arah si
Pria, aneh sekali!!. Wajahnya berubah merah, tapi tetap saja dia
memasukkan garam tersebut ke dalam kopinya dan meminumnya. Si Gadis
dengan penasaran bertanya, "Kenapa kamu bisa punya hobi seperti ini?",
si Pria menjawab, "Ketika saya kecil, saya tinggal di daerah pantai
dekat laut, saya suka bermain di laut, saya dapat merasakan rasanya
laut, asin dan sedikit menggigit, sama seperti kopi asin ini.?!?".
Dan setiap saya
minum kopi asin, saya selalu ingat masa kanak-kanak saya, ingat kampung
halaman, saya sangat rindu kampung halaman saya, saya kangen kepada
orang tua saya yang masih tinggal di sana."
Begitu berkata
kalimat terakhir, mata si Pria mulai berkaca-kaca, dan si Gadis sangat
tersentuh akan perasaan tulus dari ucapan pria di hadapannya itu. Si
Gadis berpikir bila seorang pria dapat bercerita bahwa ia rindu kampung
halamannya, pasti pria itu mencintai rumahnya, peduli akan rumahnya dan
mempunyai tanggung jawab terhadap rumahnya. Kemudian si Gadis juga mulai
berbicara, bercerita juga tentang kampung halamannya nun jauh di sana,
masa kecilnya, dan keluarganya.
Suasana kaku
langsung berubah menjadi sebuah perbincangan yang hangat juga akhirnya
menjadi sebuah awal yang indah dalam cerita mereka berdua. Mereka
akhirnya berpacaran. Si Gadis akhirnya menemukan bahwa si pria itu
adalah seorang lelaki yang dapat memenuhi segala permintaannya, dia
sangat perhatian, berhati baik, hangat, sangat perduli .. betul-betul
seseorang yang sangat baik. Si Gadis hampir saja kehilangan seorang
lelaki seperti itu! Untung ada kopi asin!!
Kemudian cerita
berlanjut seperti layaknya setiap cerita cinta yang indah, si Gadis
menikah dengan si Pria dan mereka hidup bahagia selamanya, dan setiap
saat si gadis membuat kopi untuk si Pria, ia membubuhkan garam di
dalamnya, karena ia tahu bahwa itulah yang disukai oleh pangerannya.
Setelah 40
tahun, si Pria meninggal dunia, dan meninggalkan sebuah surat yang
berkata, "Sayangku yang tercinta, mohon maafkan saya, maafkan kalau
seumur hidupku adalah dusta belaka. Hanya sebuah kebohongan yang aku
katakan padamu ... tentang kopi asin. Ingat sewaktu kita pertama kali
jalan bersama? Saya sangat gugup waktu itu, sebenarnya saya ingin minta
gula tapi malah berkata garam. Sulit sekali bagi saya untuk merubahnya
karena kamu pasti akan tambah merasa tidak nyaman, jadi saya maju terus.
Saya tak pernah terpikir bahwa hal itu ternyata menjadi awal komunikasi
kita! Saya mencoba untuk berkata sejujurnya selama ini, tapi saya
terlalu takut melakukannya, karena saya telah berjanji untuk tidak
membohongimu untuk suatu apa pun.
Sekarang saya
sekarat, saya tidak takut apa-apa lagi jadi saya katakan padamu yang
sejujurnya, saya tidak suka kopi asin, betul-betul aneh dan rasanya
tidak enak. Tapi saya selalu dapat kopi asin seumur hidupku sejak
bertemu denganmu, dan saya tidak pernah sekalipun menyesal untuk segala
sesuatu yang saya lakukan untukmu.
Memilikimu
adalah kebahagiaan terbesar dalam seluruh hidupku. Bila saya dapat hidup
untuk kedua kalinya, saya tetap ingin bertemu kamu lagi dan memilikimu
seumur hidupku, meskipun saya harus meminum kopi asin itu lagi.”
Air mata si
gadis betul-betul membuat surat itu menjadi basah. Kemudian hari bila
ada seseorang yang bertanya padanya, apa rasanya minum kopi pakai garam?
Si gadis pasti menjawab dengan yakin, "Rasanya manis !! "
Kadang Anda
merasa anda mengenal seseorang lebih baik dari orang lain, tapi hanya
untuk menyadari bahwa pendapat Anda tentang seseorang itu bukan seperti
yang Anda gambarkan. Sama seperti kejadian kopi asin tadi. Tambahkan
Cinta dan Kurangi Benci karena terkadang garam terasa lebih manis
daripada gula.
Hidup adalah
sebuah seni hidup yang teramat indah, nikmatilah dengan tanggung jawab
dan rasa syukur. Apapun kelebihan dan kekurangan pasangan anda, kalau
Anda tengah mulai punya pasangan terimalah kekurangan-kekurangan
pasangan Anda dengan bijaksana.
Subscribe to:
Posts (Atom)






















.jpg)






.jpg)
