Imam Al-Ghazali mengatakan, mengetahui tipu muslihat
syetan hukumnya fardhu 'ain bagi setiap muslim.
Tapi, kebanyakan manusia lebih tertarik dengan pengetahuan yang justru
mempermudah jalan masuk syetan mempengaruhi hati dan pikiran. Misalnya,
membaca cerita-cerita porno, melihat situs-situs dan gambar-gambar
porno, dan menonton film-film porno. Na'uzhubillahi min dzalik.
Apalagi di zaman sekarang, dari mulai bangun tidur sampai tidur lagi
kita dihadapkan oleh berbagai godaan yang dapat menurunkan iman. Setiap
kali berjalan, di hadapan kita terpampang baliho-baliho iklan yang
menampilkan gambar-gambar seronok. Atau majalah-majalah porno yang digelar
di pinggir-pinggir jalan. Ini perangkap syetan.
Seringkali hawa nafsu mendorong kita untuk melihatnya lebih detil.
Tapi, kita jarang mau mempelajari ilmu-ilmu yang berhubungan dengan
godaan syetan dan tipu dayanya. Padahal, syetan menggoda manusia 24 jam
penuh. Maka, tak mungkin orang bisa selamat dari
godaan syetan, kecuali ia mengetahui ilmunya.
Al-Hasan pernah ditanya, "Apakah syetan itu tidur?" Sambil tersenyum,
ia menjawab, "Jika syetan tidur, kita bisa istirahat."
Menurut Imam Al-Ghazali, sedikitnya ada enam cara yang dapat
digunakan untuk mematahkan tipu daya syetan.
Pertama, membuat syetan menjadi kurus dengan memperbanyak dzikir.
Rasulullah Saw. bersabda:
"Sesungguhnya orang mukmin itu dapat membuat syetan menjadi kurus,
sebagaimana seseorang membuat kurus untanya dalam perjalanan." Ruang gerak
syetan akan makin sempit dan tak ada kesempatan untuk menggoda manusia,
bila ia selalu berdzikir, mengingat Allah, baik dalam keadaan
berdiri, duduk, atau berbaring.
Kedua, Tidak mendekati tempat maksiat dan tidak berteman dengan
orang-orang yang banyak berbuat dosa. Rasulullah Saw. bersabda: "Siapa yang
berputar-putar di sekeliling yang dilarang, besar kemungkinan ia akan jatuh
ke dalamnya." Dalam hadits lain dikatakan:
"Seseorang itu mengikuti agama temannya, maka perhatikanlah dengan siapa
seseorang itu berteman."
Ketiga, selalu mengingat bahwa syetan senantiasa menjerumuskan dan
menyesatkan manusia. Allah Swt. berfirman:
"Bujukan orang-orang munafik itu
seperti bujukan syetan, ketika ia berkata kepada
manusia, 'kafirlah kamu'.
Ketika manusia itu telah kafir, ia berkata:
'Sesungguhnya aku berlepas diri
dari kamu karena sesunggunya aku takut kepada Allah.
Tuhan Semesta Alam" (QS Al-Hasyr: 16).
Keempat, selalu waspada bahwa syetan senantiasa mencari teman untuk
menjadi penduduk neraka Sa'ir. Allah Swt. berfirman:
"Sesungguhnya syetan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia
musuhmu, karena sesungguhnya syetan-syetan itu hanya mengajak golongannya
supaya mereka menjadi penghuni
neraka yang menyala-nyala (sa'ir)" (QS Fathir: 6).
Kelima, mengosongkan perut (berpuasa).
Rasullah Saw. bersabda:
"Sesungguhnya syetan itu berjalan pada manusia di tempat jalannya darah.
Maka, persempitlah jalannya itu dengan mengosongkan perut (puasa)."
Keenam, beriman dan bertawakkal kepada Allah.
Allah Swt.:
"Sesungguhnya syetan itu tidak mampu menguasai
orang-orang yang beriman dan
bertawakkal kepada Tuhannya" (QS An-Nahl: 99).
syetan hukumnya fardhu 'ain bagi setiap muslim.
Tapi, kebanyakan manusia lebih tertarik dengan pengetahuan yang justru
mempermudah jalan masuk syetan mempengaruhi hati dan pikiran. Misalnya,
membaca cerita-cerita porno, melihat situs-situs dan gambar-gambar
porno, dan menonton film-film porno. Na'uzhubillahi min dzalik.
Apalagi di zaman sekarang, dari mulai bangun tidur sampai tidur lagi
kita dihadapkan oleh berbagai godaan yang dapat menurunkan iman. Setiap
kali berjalan, di hadapan kita terpampang baliho-baliho iklan yang
menampilkan gambar-gambar seronok. Atau majalah-majalah porno yang digelar
di pinggir-pinggir jalan. Ini perangkap syetan.
Seringkali hawa nafsu mendorong kita untuk melihatnya lebih detil.
Tapi, kita jarang mau mempelajari ilmu-ilmu yang berhubungan dengan
godaan syetan dan tipu dayanya. Padahal, syetan menggoda manusia 24 jam
penuh. Maka, tak mungkin orang bisa selamat dari
godaan syetan, kecuali ia mengetahui ilmunya.
Al-Hasan pernah ditanya, "Apakah syetan itu tidur?" Sambil tersenyum,
ia menjawab, "Jika syetan tidur, kita bisa istirahat."
Menurut Imam Al-Ghazali, sedikitnya ada enam cara yang dapat
digunakan untuk mematahkan tipu daya syetan.
Pertama, membuat syetan menjadi kurus dengan memperbanyak dzikir.
Rasulullah Saw. bersabda:
"Sesungguhnya orang mukmin itu dapat membuat syetan menjadi kurus,
sebagaimana seseorang membuat kurus untanya dalam perjalanan." Ruang gerak
syetan akan makin sempit dan tak ada kesempatan untuk menggoda manusia,
bila ia selalu berdzikir, mengingat Allah, baik dalam keadaan
berdiri, duduk, atau berbaring.
Kedua, Tidak mendekati tempat maksiat dan tidak berteman dengan
orang-orang yang banyak berbuat dosa. Rasulullah Saw. bersabda: "Siapa yang
berputar-putar di sekeliling yang dilarang, besar kemungkinan ia akan jatuh
ke dalamnya." Dalam hadits lain dikatakan:
"Seseorang itu mengikuti agama temannya, maka perhatikanlah dengan siapa
seseorang itu berteman."
Ketiga, selalu mengingat bahwa syetan senantiasa menjerumuskan dan
menyesatkan manusia. Allah Swt. berfirman:
"Bujukan orang-orang munafik itu
seperti bujukan syetan, ketika ia berkata kepada
manusia, 'kafirlah kamu'.
Ketika manusia itu telah kafir, ia berkata:
'Sesungguhnya aku berlepas diri
dari kamu karena sesunggunya aku takut kepada Allah.
Tuhan Semesta Alam" (QS Al-Hasyr: 16).
Keempat, selalu waspada bahwa syetan senantiasa mencari teman untuk
menjadi penduduk neraka Sa'ir. Allah Swt. berfirman:
"Sesungguhnya syetan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia
musuhmu, karena sesungguhnya syetan-syetan itu hanya mengajak golongannya
supaya mereka menjadi penghuni
neraka yang menyala-nyala (sa'ir)" (QS Fathir: 6).
Kelima, mengosongkan perut (berpuasa).
Rasullah Saw. bersabda:
"Sesungguhnya syetan itu berjalan pada manusia di tempat jalannya darah.
Maka, persempitlah jalannya itu dengan mengosongkan perut (puasa)."
Keenam, beriman dan bertawakkal kepada Allah.
Allah Swt.:
"Sesungguhnya syetan itu tidak mampu menguasai
orang-orang yang beriman dan
bertawakkal kepada Tuhannya" (QS An-Nahl: 99).
0 comments:
Post a Comment